-->

MATERI GEOGRAFI KELAS X BAB 2 : Dasar-Dasar Pemetaan, Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografi


#BelajarDariRumah #GEOGRAFI #KelasX 
#DasarDasarPemetaanPenginderaanJauhDanSistem Informasi Geografi
   

Pada tulisan ini redaksi Info Publik News menyajikan meteri pembelajaran GEOGRAFI  Kelas X Semester Ganjil .  Hal ini bertujuan untuk membantu tenaga pendidik dan siswa dalam proses mencari bahan materi pelajaran secara online saat proses Belajar Dari Rumah. 

 A. PENGERTIAN PETA

Peta adalah gambaran konvensional dari permukaan bumi yang diperkecil sesuai kenampakannya dari atas.


Peta umumnya digambarkan dalam bidang datar dan dilengkapi skala, orientasi, dan simbol-simbol.

Dengan kata lain, peta adalah gambaran permukaan bumi yang diperkecil sesuai dengan skala. Supaya dapat dipahami oleh pengguna atau pembaca, peta harus diberi tulisan dan simbol-simbol.

Dalam penggambaran permukaan bumi ke dalam peta, digunakan sistem transformasi dari bidang lengkung permukaan bumi ke bidang datar (gambar peta).

Sistem transformasi tersebut dikenal sebagai sistem proyeksi peta. Untuk mempelajari seluk beluk penggambaran peta, diperlukan bidang ilmu khusus yang disebut kartografi.
Orang yang ahli dalam bidang pemetaan disebut kartografer.

Ada beberapa ahli kartografi menjelaskan pengertian peta sebagai berikut.

1. ICA (International Cartographic Association)
Peta adalah gambaran atau representasi unsur-unsur ketampakan abstrak yang dipilih dari permukaan bumi yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau benda-benda angkasa, yang pada umumnya digambarkan pada suatu bidang datar dan diperkecil/diskalakan

2. Soetardjo Soerjosoemarno

Peta adalah suatu lukisan dengan tinta dari seluruh atau sebagian permukaan bumi yang diperkecil dengan perbandingan ukuran yang disebut skala.

 

3. Erwin Raisz

Peta adalah gambaran konvensional dari ketampakan muka bumi yang diperkecil seperti ketampakannya kalau dilihat vertikal dari atas, dibuat pada bidang datar dan ditambah tulisan-tulisan sebagai penjelas.

4. Aryono Prihandito

Peta merupakan gambaran permukaan bumi dengan skala tertentu, digambar pada bidang datar melalui sistem proyeksi tertentu.

4. Bakosurtanal (2005)

Peta merupakan wahana bagi penyimpanan dan penyajian data kondisi lingkungan, merupakan sumber informasi bagi para perencana dan pengambilan keputusan pada tahapan dan tingkatan pembangunan.

Fungsi dan Tujuan Pembuatan Peta

1) Fungsi Pembuatan Peta
·         Menunjukkan posisi atau lokasi relatif (letak suatu tempat dalam hubungannya dengan tempat lain) di permukaan bumi.
·         Memperlihatkan atau menggambarkan bentuk-bentuk permukaan bumi (misalnya bentuk benua, atau gunung) sehingga dimensi dapat terlihat dalam peta.
·         Menyajikan data tentang potensi suatu daerah.
·         Memperlihatkan ukuran, karena melalui peta dapat diukur luas daerah dan jarak-jarak di atas permukaan bumi.

2) Tujuan Pembuatan Peta
·         Membantu suatu pekerjaan, misalnya untuk konstruksi jalan, navigasi, atau  perencanaan.
·         Analisis data spasial, misalnya perhitungan volume.
·         Menyimpan informasi.
·         Membantu dalam pembuatan suatu desain, misal desain jalan.

       .    Komunikasi informasi ruang. 

 

  

B. JENIS PETA

Berdasarkan skalanya, peta dibagi menjadi empat, yakni:

1. Peta Kadaster

peta yang mempunyai skala antara 1:100 hingga 1:5.000. Peta semacam ini dipakai untuk membuat peta dalm sertifikat kepemilikan tanah.

2. Peta Skala Besar

Peta skala besar adalah peta yang mempunyai skala antara 1:5.000 hingga 1:250.000. Peta ini digunakan untuk menggambarkan wilayah-wilayah yang relatif sempit, misalnya peta Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

3. Peta Skala Sedang

Peta skala sedang adalah peta yang mempunyai skala antara 1:250.000 hingga 1:500.000. 

Peta jenis ini digunakan untuk menggambarkan wilayah yang agak luas, misalnya peta Provinsi Jawa Tengah dan Peta Provinsi Kalimantan Selatan .

4. Peta Skala Kecil

Peta skala kecil adalah peta yang mempunyai skala antara 1:500.000 hingga 1:1.000.000. Peta jenis ini digunakan untuk menggambarkan daerah-daerah yang cukup luas, biasanya berupa negara. Misalnya peta wilayah Republik Indonesia

5. Peta Geografi

Peta skala geografi adalah peta yang mempunyai skala lebih kecil dari 1:1.000.000. Peta ini digunakan untuk menggambarkan kelompok negara, benua, atau seluruh dunia.

 

Berdasarkan objek yang disajikan, peta dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Peta Statis

peta yang menggambarkan keadaan relatif tetap atau jarang berubah. Misalnya peta jenis tanah, peta administrasi suatu wilayah desa atau peta perkotaan, dan peta geologi.

2. Peta Dinamis

peta yang isinya menggambarkan keadaan yang dinamis atau cepat berubah.
Misalnya peta transmigrasi, peta urbanisasi, peta perencanaan wilayah kota, dan peta tata guna lahan.

 


Berdasarkan isi data yang disajikan, peta dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Peta Umum

adalah peta yang menggambarkan keadaan permukaan bumi secara umum.
Dalam peta ini, ditampilkan seluruh kenampakan yang ada di permukaan bumi, baik bersifat alamiah (misalnya sungai, danau, gunung, lautan, hutan, dan lain-lain) maupun buatan manusia (misalnya jalan raya, kota, pelabuhan, perkebunan, dan lain-lain).

Contoh peta umum, antara lain: peta dunia, peta korografi, peta rupa bumi, dan peta topografi.

 

2. Peta Khusus

Peta khusus disebut juga peta tematik adalah peta yang menggambarkan kenampakan tertentu (khusus) yang ada di permukaan bumi.
Pada peta ini penggunaan simbol merupakan ciri yang ditonjolkan sesuai tema yang dinyatakan pada judul peta.

Beberapa contoh peta tematik, antara lain: peta iklim, peta jenis tanah, peta geologi, peta penggunaan lahan, peta persebaran penduduk, dan lain-lain.

 

 

 C. KOMPONEN PETA


1. JUDUL
Mencerminkan isi sekaligus tipe peta. Penulisan judul biasanya di bagian atas tengah, atas kanan, atau bawah. Dengan adanya judul, maka pembaca akan mengetahui isi peta tersebut. Misal, peta iklim, peta curah hujan, peta persebaran objek wisata, dan sebagainya.

2.GARIS TEPI PETA
Garis tepi peta merupakan garis untuk membatasi ruang peta dan untuk meletakkan garis astronomis, secara beraturan dan benar pada peta.
 Biasanya garis ini dibuat rangkap dua dan tebal.

3. GARIS ASTRONOMIS
Garis astronomis terdiri atas garis lintang dan garis bujur yang digunakan untuk menunjukkan letak suatu tempat atau wilayah yang dibentuk secara berlawanan arah satu sama lain sehingga membentuk vektor yang menunjukan letak astronomis.



4. ORIENTASI
Pada umumnya, arah utara ditunjukkan oleh tanda panah ke arah atas peta. Letaknya di tempat yang sesuai jika ada garis lintang dan bujur, koordinat dapat sebagai petunjuk arah.


5. SKALA
Skala adalah perbandingan jarak pada peta dengan jarak sesungguhnya di lapangan. Skala ditulis di bawah judul peta, di luar garis tepi, atau di bawah legenda.

Adapun rumus mencari Skala Peta adalah 
 


Skala dibagi menjadi 3, yaitu:
Skala angka. Misalnya 1 : 2.500.000. artinya setiap 1 cm jarak dalam peta sama dengan 25 km satuan jarak sebenarnya.
Skala garis. Skala ini dibuat dalam bentuk garis horizontal yang memiliki panjang tertentu dan tiap ruas berukuran 1 cm atau lebih untuk mewakili jarak tertentu yang diinginkan oleh pembuat peta.
Skala verbal
. Yakni skala yang ditulis dengan kata-kata.

6. LEGENDA
Legenda adalah keterangan dari simbol-simbol yang merupakan kunci untuk memahami peta.


7. S
IMBOL
Simbol peta adalah tanda atau gambar yang mewakili kenampakan yang ada di permukaan bumi yang terdapat pada peta kenampakannya, jenis-jenis simbol peta antara lain:

Simbol titik, digunakan untuk menyajikan tempat atau data posisional
Simbol garis, digunakan untuk menyajikan data yang berhubungan dengan jarak
Simbol area, digunakan untuk mewakili suatu area tertentu dengan simbol yang mencakup area tertentu


8. W
ARNA PETA
Warna peta digunakan untuk membedakan kenampakan atau objek di permukaan bumi, memberi kualitas atau kuantitas simbol di peta, dan untuk keperluan estetika peta. 

Warna simbol dalam peta terdiri :
Hijau menunjukkan suatu daerah yang memiliki ketinggian kurang dari 200 m dpl
Hijau muda :  muda menunjukkan suatu daerah yang memiliki ketinggian antara 200–400 m di atas permukaan laut.
Merah menunjukkan jalan kereta api/gunung aktif. Warna merah sering dijumpai di peta suatu provinsi. 
Kuning menunjukkan suatu daerah yang memiliki ketinggian antara 500–1000 m di atas permukaan laut..
Cokelat muda : menunjukkan daerah yang mempunyai ketinggian antara 1000–1500 m di atas permukaan air laut.
 
Cokelatmenunjukkan daerah yang mempunyai ketinggian lebih dari 1500 m di atas permukaan air laut. 
Biru keputihan : menunjukkan warna kenampakan perairan. Warna biru keputihan menunjukkan wilayah perairan yang kedalamannya kurang dari 200 m. Bentuk muka bumi dasar laut di wilayah ini didominasi oleh bentuk lereng yang relatif landai. Zona di wilayah ini disebut dengan zona neritik. Penyebaran dari zona ini ada di sekitar pantai. Di wilayah perairan darat warna ini menunjukkan danau atau rawa.
Biru muda menunjukkan wilayah perairan laut yang mempunyai kedalaman antara 200–2000 m. Bentuk muka bumi dasar laut di wilayah ini didominasi oleh bentukan lereng yang relatif terjal. Wilayah ini merupakan kelanjutan dari zona neritik. Namun wilayah ini tidak tergambar dalam peta umum.
Biru tua :  menunjukkan wilayah perairan laut dengan kedalaman lebih dari 2000 m.

9. L
ETTERING
Lettering berfungsi untuk mempertebal arti dari simbol-simbol yang ada. Macam penggunaan lettering:
Obyek Hipsografi ditulis dengan huruf tegak warna hitam, contoh: Surakarta
Obyek Hidrografi ditulis dengan huruf miring warna biru, contoh: Laut Jawa

10. I
NSET
Inset adalah peta kecil yang disisipkan di peta utama. 


K. S
UMBER DAN TAHUN PEMBUATAN


Sumber data dan tahun pembuatan perlu dimasukkan dalam peta agar bisa diketahui dari mana asal datanya dan tahun pembuatannya 


D. KETERAMPILAN PEMBUATAN PETA

alam Pembuatan suatu peta, khususnya peta tematik diperlukan beberapa tahapan atau proses, yang dimulai dari persiapan (pengumpulan data), pengolahan data, sampai pencetakan dalam wujud peta tematik. Proses pembuatan peta meliputi secara sederhana dapat dilakukan dengan 3 tahapan, sebagai berikut.

1. Tahap Pengumpulan Data

Data-data geografis yang digunakan sebagai sumber dari pembuatan peta ada dua macam yaitu sumber primer dan sumber sekunder.

1.     Sumber data primer adalah sumber data yang diperoleh dengan cara observasi secara langsung di lapangan dengan cara pengukuran, pengamatan, pembuatan sketsa, dan wawancara terhadap penduduk setempat.

2.     Sumber data sekunder adalah sumber data yang diperoleh dengan cara observasi secara tidak langsung, artinya data diperoleh dari foto, peta, dan dokumentasi yang sudah ada pada suatu instansi terkait. Misalnya data sekunder dari dokumentasi milik Direktorat Topografi (Dittop) TNI-AD, Pusat Survei Pemetaan (Pussurta), Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Pertanahan Negara (BPN), Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Dinas Pertanian, Dinas Pertambangan, dan lembaga-lembaga lain atau lembaga pemerintah setempat.

2. Tahap Pemetaan atau Penyajian Data

Data yang telah terkumpul dapat dianalisis dengan komputer dan hasilnya disimpan, selanjutnya hasil analisis data tersebut dicocokkan kembali dengan keadaan di lapangan. Tahap ini diawali dengan menyiapkan peta dasar untuk digandakan menjadi peta baru yang akan digunakan untuk peta tematik. Proses menggambar peta dasar menjadi peta yang baru dapat dilakukan dengan cara memfotokopi atau disalin/digambar pada kertas yang lain dengan menggunakan pantograph, atau dengan garis-garis koordinat (kotak-kotak).

Setelah peta dasar selesai dibuat, langkah berikutnya adalah penyajian data dengan cara menggambarkan simbol-simbol yang sesuai antara objek geografis di lapangan dengan objek di peta. Misalnya simbol arsir bertingkat, simbol lingkaran, simbol batang, atau simbol gambar. Simbol peta tematik hendaknya dirancang dengan baik, benar, dan sesuai, agar tujuan pemetaan dapat tercapai, menarik, bersih, dan mudah dibaca.

3. Penyajian Kembali dalam Bentuk Grafis

Pada tahap ini dilakukan pemasukan atau input data yang telah diperoleh dari lapangan, sehingga dapat diinformasikan kepada pembaca peta dalam bentuk grafis. Misal peta persebaran jumlah penduduk kecamatan X tahun 2006 diperoleh data jumlah penduduk

Pembuatan suatu peta harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain sebagai berikut.

1.     Peta harus conform, artinya bentuk-bentuk daerah, pulau, dan benua yang digambar pada peta harus sama seperti bentuk aslinya di permukaan bumi.

2.     Peta harus ekuivalen, artinya daerah yang digambar harus sama luasnya jika dikalikan dengan skala peta.

3.     Peta harus ekuidistan, artinya jarak yang digambar di peta harus tepat perbandingannya dengan jarak sesungguhnya di permukaan bumi setelah dikalikan dengan skala.

4.     Data yang disajikan harus lengkap dan teliti.

5.     Peta yang tersaji tidak membingungkan dan mudah dimengerti maksudnya.

6.     Peta harus rapi, indah, dan menarik

 

 

E. PROYEKSI PETA

Penggambaran bentuk permukaan bumi yang melengkung jika digambarkan pada bidang datar pasti akan mengalami kesalahan.

Untuk menghindari atau memperkecil kesalahan, dipilihlah cara penggambaran peta dengan proyeksi.


Proyeksi peta adalah cara pemindahan permukaan bumi yang melengkung ke bidang datar.


Agar peta yang dibuat dengan baik, terdapat tiga kategori jenis proyeksi yang dapat digunakan, yaitu harus conform, equivalent, dan equidistant.

Conform
Conform artinya bentuk-bentuk bidang daerah. pulau, dan benua yang digambar pada peta harus sesuai dengan bentuk aslinya di alam.

Equivalent
Equivalent artinya daerah-daerah atau bidang-bidang yang digambarkan harus sebanding luasnya dengan apa yang terdapat di alam

Equidistant
Equidistant artinya jarak-jarak yang digambarkan pada peta harus tepat perbandingannya dengan keadaan sesungguhnya.

 


Berdasarkan jenis proyeksinya, proyeksi peta dibedakan atas 4 jenis, yaitu proyeksi zenital (zenital), proyeksi silinder (cylindrical), proyeksi kerucut (conic), dan proyeksi unik (unique).

1. Proyeksi Zenital
Proyeksi zenital adalah proyeksi dengan bidang proyeksi berupa bidang datar yang menyinggung bola bumi

Berdasarkan arah sinar, proyeksi zenithal dibedakan sebagai berikut:

a. Proyeksi Zenithal Gnomonis

Proyeksi ini disebut proyeksi sentral karena titik sumber proyeksinya terletak pada pusat sumbu bola bumi. Dengan kata lain, proyeksi zenital gnomonis merupakan proyeksi pada bidang datar dengan sumbu utamanya terletak di ekuator.

b. Proyeksi Zenithal Stereografis

Merupakan salah satu proyeksi zenital dengna titik sumber proyeksinya terletak di kutub yang berlawanan dari titik singgung bidang proyeksi dengan kutub bola bumi.

c. Proyeksi Zenithal Ortografis

Proyeksi zenital ortografis dengan titik sumber proyeksi terletak tak terhingga, sehingga sinar proyeksi merupakan garis-garis yang sejajar.

Lingkaran paralel akan diproyeksikan dengna keliling yang benar (ekudistan). Jarak antarlingkaran paralel akan mengecil jika semakin jauh dari pusat.

 

 

 


Berdasarkan Sudut Distorsi (penyimpangan) yang diakibatkan, proyeksi zenital dibedakan sebagai berikut:

a. Proyeksi Zenithal Ekuidistan

Merupakann proyeksi yang mementingkan atau mengutamakan jarak. Jarak yang ada pada peta hasil proyeksi harus tepat perbandingannya dengan keadaan yang sebenarnya.

b. Proyeksi Zenithal Ekuivalen

Merupakan salah satu proyeksi yang mementingkan luas bidang atau daerah yang diproyeksikan. Luas bidang atau daerah yang digambarkan dalam proyeksi harus sebanding luasnya dengan apa yang ada pada keadaan sebenarnya di alam.

c. Proyeksi Zenithal Konform

Merupakan proyeksi yang menggambarkan bentuk daerah atau bidang yang digambarkan di peta harus sebanding dengan keadaan sesungguhnya.

 

 

 


2. Proyeksi Silinder
Proyeksi silinder adalah keadaan ketika semua paralel berupa garis horisontal dan semua meridian berupa garis lurus vertikal. Proyeksi ini paling tepat untuk menggambarkan daerah ekuator, sebab di arah kutub terjadi pemanjangan garis (pemekaran).

3. Proyeksi Kerucut
Proyeksi kerucut diperoleh dengan memproyeksikan  bola bumi pada kerucut yang menyinggung atau memotong bola bumi. Bindang kerucut itu kemudian dibuka sehingga bentangannya ditentukan oleh sudut puncaknya.

4. Proyeksi Unik
Proyeksi unik adalah cara memproyeksikan permukaan bumi yang lengkung pada bidang datar yang dikembangkan para ahli kartografi.

Beberapa contoh proyeksi unik sebagai berikut:

a. Proyeksi omolografik Mollweide
Proyeksi ini dikembangkan oleh Karl. B. Mollweide pada tahun 1805.

b. Proyeksi Homolosine Goode
Proyeksi ini dikembangkan oleh Dr. Paul Goode pda tahun 1023.

c. Proyeksi Eckart IV
Proyeksi ini dikembangkan oleh Prof. Eckert-Greifendorff, seorang ahli geografi berkebangsaan Jerman.

 

 

F. PENGERTIAN PENGINDERAAN JAUH

Istilah Penginderaan Jauh (remote sensing) pertama kali diperkenalkan oleh Parker di Amerika Serikat pada akhir tahun 1950-an dari Instansi Kelautan Amerika Serikat.

Pada awal tahun 1970-an, istilah serupa juga digunakan di Prancis dengan sebutan teledetection, di Jerman dengan istilah fenerkundung serta di Spanyol dengan istilah teleperception.

Beberapa ahli mendefinisikan penginderaan jauh sebagai berikut.

Lilesand dan Kiefer (1979)
Penginderaan Jauh adalah ilmu atau seni untuk memperoleh informasi tentang objek, daerah, atau gejala dngan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontal langsung terhadap objek atau gejala yang dikaji.

Lindgren (1985)
Penginderaan Jauh adalah berbagai teknik yang dikembangkan untuk memperoleh dan mengatasi tentang bumi.

American Society of Photogrametry
Penginderaan Jauh adalah pengukuran atau perolehan informasi dari beberapa sifat objek atau fenomena dengan menggunakan alat perekam yang secara fisik tidak terjadi kontak langsung dengan objek atau fenomena yang dikaji.

G. KOMPONEN PENGINDERAAN JAUH

1. Sumber Tenaga

Dalam Penginderaan Jauh harus ada sumber tenaga, baik sumber tenaga alamiah maupun sumber tenaga buatan.

Tenaga ini mengenai obyek di permukaan bumi yang kemudian dipantulkan ke sensor.
Ia juga dapat berupa tenaga dari obyek yang dipancarkan ke sensor.

Pengumpulan data dalam penginderaan jauh dilakukan dari jarak jauh dengan menggunakan sensor buatan.

Oleh karena itu, diperlukan tenaga peng hubung yang membawa data objek ke sensor. Data tersebut di kumpulkan dan direkam melalui tiga cara dengan variasi sebagai berikut.

Distribusi daya (force), contohnya Gravitometer mengumpulkan data yang berkaitan dengan gaya tarik bumi.

Distribusi gelombang bunyi, contohnya Sonar digunakan untuk mengumpulkan data gelombang suara dalam air.

Distribusi gelombang elektromagnetik, contohnya kamera untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan pantulan sinar.

Penginderaan jauh yang menggunakan tenaga buatan disebut sistem penginderaan jauh aktif. Hal ini didasarkan bahwa perekaman objek pada malam hari diperlukan bantuan tenaga di luar matahari.

Proses perekaman objek tersebut melalui pancaran tenaga buatan yang disebut tenaga pulsar yang berkecepatan tinggi karena pada saat pesawat bergerak tenaga pulsar yang dipantulkan oleh objek direkam.

Oleh karena tenaga pulsar memantul, pantulan yang tegak lurus memantulkan tenaga yang banyak sehingga rona yang terbentuk akan berwarna gelap.

Adapun tenaga pantulan pulsa radar kecil, rona yang terbentuk akan cerah. Sensor yang tegak lurus dengan objek membentuk objek gelap disebut near range, sedangkan yang membentuk sudut jauh dari pusat perekaman disebut far range.

Dalam penginderaan jauh harus ada sumber tenaga yaitu matahari yang merupakan sumber utama tenaga elektro magnetik alami.

Penginderaan jauh dengan memanfaatkan tenaga alamiah disebut penginderaan jauh sistem pasif.

 

2. Atmosfer

Atmosfer bersifat selektif terhadap panjang gelombang sehingga hanya sebagian kecil tenaga elektromagnetik yang dapat mencapai permukaan bumi dan dimanfaatkan untuk penginderaan jauh.

Bagian spektrum elektromagnetik yang mampu melalui atmosfer dan dapat mencapai permukaan bumi disebut jendela atmosfer.

Jendela atmosfer yang paling dikenal orang dan digunakan dalam penginderaan jauh hingga sekarang spektrum tampak yang dibatasi oleh gelombang 0,4 m s/d 0,7 m.

Tenaga elektromagnetik dalam jendela atmosfer tidak seluruhnya dapat mencapai permukaan bumi secara utuh karena sebagian terhalang oleh atmosfer.

Hambatan ini terutama disebabkan oleh butir- butir yang ada di atmosfer, seperti debu, uap air, dan berbagai macam gas.

Proses penghambatannya dapat terjadi dalam bentuk serapan, pantulan, dan hamburan.

 

3. Interaksi Antara Tenaga dan Objek

Tiap objek memiliki karakteristik tertentu dalam memantulkan atau memancarkan tenaga ke sensor.

Pengenalan obyek pada dasarnya dilakukan dengan menyidik (tracing) karakteristik spektral obyek yang tergambar pada citra.

Obyek yang banyak memantulkan/memancarkan tenaga akan tampak cerah pada citra, sedang obyek yang pantulannya/pancarannya sedikit tampak gelap.

Meskipun demikian, pada kenyataanya tidak sesederhana ini.

Ada obyek yang berlainan tetapi mempunyai karakteristik spektral sama atau serupa sehingga menyulitkan pembedaanya dan pengenalannya pada citra.

Hal ini dapat diatasi dengan menyidik karakteristik lain selain karakteristik spektral, seperti misalnya bentuk, ukuran, dan pola.

 

4. Sensor

Tenaga yang datang dari obyek di permukaan bumi diterima dan direkam oleh sensor. Tiap sensor mempunyai kepekaan tersendiri terhadap bagian spektrum elektromagnetik.

Disamping itu juga kepekaanya berbeda dalam merekam obyek terkecil yang masih dapat dikenali dan dibedakan terhadap obyek lain atau terhadap lingkungan sekitarnya.

Kemampuan sensor untuk menyajikan gambaran obyek terkecil ini disebut resolusi spasial. Resolusi spasial ini merupakan petunjuk bagi kualitas sensor.

Semakin kecil obyek yang dapat direkam olehnya, semakin baik kualitas sensornya.

Berdasarkan atas proses perekamannya, sensor dibedakan atas sensor fotografik dan sensor elektromagnetik.

1. Sensor Fotografik
Pada sensor fotografik, proses perekamannya berlangsung dengan cara kimiawi.
Tenaga elektromagnetik diterima dan direkam pada lapisan emulsi film yang dilakukan dari pesawat udara atau wahana lainnya.

Fotonya disebut foto satelit atau foto orbital. Jadi, dalam proses ini film berfungsi sebagai penerima tenaga dan sekaligus sebagai alat perekamannya.

 Jika pemotretan dilakukan dari pesawat udara atau wahana lainnya, citranya disebut foto udara. Jika pemotretannya dilaku kan melalui antariksa, citranya disebut citra orbital atau foto satelit.

2. Sensor Elektrik
Berbeda dengan sensor fotografik, sensor elektronik menggunakan tenaga elektrik dalam bentuk sinyal elektrik.

Alat penerima dan perekamnya berupa pita magnetik atau detektor lainnya, buka film.

Sinyal elektrik yang direkam pada pita magnetik ini kemudian dapat diproses menjadi data visual maupun menjadi data digital yang siap dikomputerkan.

Pemrosesannya menjadi citra dapat dilakukan dengan dua cara, yakni dengan memotret data yang direkam oleh pita magnetik yang telah diujudkan secara visual pada sejenis layar televisi, atau dengan menggunakan film perekam khusus.

Hasil akhirnya memang berupa foto dengan sebagai alat perekamnya, akan tetapi film disini hanya berfungsi sebagai alat perekam saja, bukan sebagai alat penerima tenaga secara langsung yang sekaligus sebagai alat perekam.

Oleh karena itu, hasil akhirnya tidak disebut foto udara, melainkan disebut citra penginderaan jauh yang untuk mudahnya disingkat dengan citra.

Citra meliputi semua gambaran visual planimetrik yang diperoleh dengan jalan penginderaan jauh. Jadi foto udara termasuk citra, akan tetapi tidak semua citra berupa foto udara.

Kepekaan sensor tidak sama. Sensor fotografik hanya peka terhadap spektrum tampak (0,4 μm - 0,7μm) dan perluasannya, yaitu spektrum ultraviolet dekat (0,3μm - 0,4μm) dan spektrum inframerah dekat (0,7μm - 0,9μm).

Sensor elektronik lebih besar kepekaanya, yakni meliputi spektrum tampak dan perluasannya, spektrum inframerah termal, dan spektrum gelombang mikro.

 

5. Perolehan Data

Perolehan data bisa dilakukan manual maupun secara visual, maupun dengan numerik atau digital. Perolehan data dengan cara manual yaitu dengan cara menginterpretasi foto udara secara visual.

 

6. Pengguna Data

Tingkat kemampuan dari penerapan sistem penginderaan jauh ditentukan oleh pengguna data. Kemampuan pengguna data dalam menerapkan hasil penginderaan jauh juga dipengaruhi oleh pengetahuan yang mendalam tentang disiplin ilmu masing-masing maupun cara pengumpulan data dari sistem penginderaan jauh.

 

 

 

 

 

 

 

 

H. JENIS CITRA PENGINDERAAN JAUH

Citra merupakan gambaran yang terekam oleh kamera atau sensor.

Data indraja juga berupa data visual yang pada umumnya dianalisis secara manual. Data visual dibedakan menjadi dua, yaitu data citra dan data noncitra.

Data citra dalah berupa gambaran yang mirip dengan wujud aslinya atau minimal berupa gambaran planimetri. Data noncitra pada umumnya berupa garis atau grafik.

Citra indraja adalah gambaran suatu gejala atau objek sebagai hasil rekaman dari sebuah sensor, baik dengan cara optic, elekrooptik, maupun elektronik.

Citra dibedakan menjadi dua, yaitu citra foto (photographic image) atau foto udara dan citra nonfoto (nonphotographic image)

CITRA FOTO
Citra foto adalah gambaran suatu gejala di permukaan bumi sebagai hasil pemotretan dengan menggunakan kamera. Citra foto dibedakan atas dasar spectrum elektromagnetik yang digunakan, posisi sumbu kamera, sudut liputan kamera, jenis kamera, wahana yang digunakan, dan system wahananya.

1) Spektrum Elektromagnetik yang Digunakan
Berdasarkan spectrum elektromagnetik yang digunakan, citra foto dibedakan menjadi 5 jenis, yaitu sebagai berikut.

  • Citra foto ultraviolet, yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spectrum ultraviolet.
  • Citra foto ortokromatik, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spectrum tampak dari warna biru hingga sebagian warna hijau. 
  • Citra foto inframerah modifikasi, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spectrum tampak dari warna merah dan sebagian warna hijau. 
  • Citra inframerah asli, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum inframerah. 
  • Citra foto pankromatik, yaitu citra foto yang dibuat demgan menggunakan seluruh spektrum tampak.  

 

 


2) Posisi Sumbu Kamera 
Berdasarkan posisi sumbu kamera terhadap permukaan bumi citra foto dibedakan menjadi dua jenis, yaitu citra foto vertical dan citra foto condong.

  • Citra foto vertikal, yaitu citra foto yang dibuat dengan posisi sumbu kamera tegak lurus terhadap permukaan bumi. kemiringan sumbu kamera sebesar 10 - 40 
  • Citra foto condong, yaitu citra foto yang dibuat dengan posisi sumbu kamera miring, umumnya membentuk sudut sebesar 100 atau lebih. 

 


3) Jenis Kamera 
Berdasarkan kamera yang digunakan, citra foto dibedakan menjadi dua jenis, yaitu citra foto tunggal dan citra foto jamak.

 

  • Citra foto tunggal, yaitu citra foto yang dibuat dengan kamera tunggal. Oleh karena itu, setiap objek hanya tergambar dalam satu lembar foto. 
  • Citra foto jamak, yaitu citra foto yang dibuat pada saat yang sama dan menggambarkan objek liputan yang sama. 

 

 


4) Warna yang Digunakan 
Berdasarkan warna yang digunakan, citra foto berwarna dibedakan menjadi 2, yaitu citra foto warna asli (true color) dan citra foto warna semua (false color).

5) Sistem Wahana
Berdasarkan wahana yang digunakan, citra foto dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu citra foto udara dan citra foto satelit.

  • Citra foto udara, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan wahana yang bergerak di udara, contohnya laying-layang, balon udara, dan pesawat terbang. 
  • Citra foto satelit, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan wahana yang bergerak di ruang angkasa, umumnya satelit. 

 

 



CITRA NON FOTO
Citra nonfoto adalah gambar atau citra tentang suatu objek yang dihasilkan oleh sensor bukan kamera dengan cara memindai (scanning). Citra nonfoto dibedakan atas dasar spectrum elektromagnetik yang digunakan, sensor yang digunakan, dan wahana yang digunakan.

1) Spektrum Elektromagnetik yang Digunakan 
Berdasarkan spektrum elektromagnetik yang digunakan, citra nonfoto dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu citra inframerahtermal, citra radar, dan citra gelombang mikro.

  • Citra inframerah termal, yaitu citra yang dibuat dengan menggunkan spectrum inframerah termal. 
  • Citra radar, yaitu citra yang dibuat dengan menggunakan spectrum gelombang mikro dan sumber tenaga buatan. 
  • Citra gelombang mikro, yaitu citra yang dibuat dengan menggunakan spectrum gelombang mikro. 

 


2) Sensor yang Digunakan 
Berdasarkan sensor yang digunakan, citra nonfoto dibedakan menjadi 2, yaitu citra tunggal dan citra multispektral.

  • Citra tungal, yaitu citra yang dibuat dengan dengan menggunakan sensor tunggal. 
  • Citra multipektral, yaitu citra yang dibuat dengan menggunakan sensor saluran jamak. 

 

 


3) Wahana yang Digunakan 
Berdasarkan wahana yang digunakan, citra nonfoto dibedakan menjadi 2, yaitu citra dirgantara dan citra satelit.

Citra dirgantara 
Citra dirgantara yaitu citra yang dibuat dengan menggunakan wahana yang beroperasi di udara atau dirgantara

Citra satelit
Citra satelit yaitu citra yang dibuat dengan menggunakan wahana yang beroperasi di antariksa. Citra ini dibedakan menurut penggunaanya, sebagai berikut:

  • Citra satelit untuk penginderaan jauh
  • Citra satelit untuk penginderaan cuaca
  • Citra satelit untuk penginderaan sumber daya bumi
  • Citra satelit untuk penginderaan laut

 

 

 

I. INTERPRETASI CITRA

Unsur-unsur interpretasi citra sebagai berikut:

1. Rona (tone/color tone/grey tone) adalah tingkat kegelapan atau kecerahan obyek pada citra.

Rona pada foto pankromatik merupakan atribut bagi obyek yang berinteraksi dengan seluruh spektrum tampak yang sering disebut sinar putih, yaitu spektrum dengan panjang gelombang (0,4 - 0,7) μm.

Di dalam penginderaan jauh, spektrum demikian disebut spektrum lebar. Jadi, rona merupakan tingkatan dari hitam ke putih atau sebaliknya.

Warna ialah wujud yang tampak oleh mata dengan menggunakan spektrum sempit, lebih sempit dari spektrum tampak.

Sebagai contoh, obyek tampak biru, hijau, atau merah bila ia hanya memantulkan spektrum dengan panjang gelombang (0,4-0,5)μm, (0,5-0,6)μm, atau (0,6-0,7)μm.

Warna Berdasarkan Pantulan

a = tampak biru karena memantulkan saluran biru

b = tampak kuning karena menyerap sinar biru

Sebaliknya bila obyek menyerap sinar biru maka ia akan memantulkan warna hijau dan merah. Sebagai akibatnya maka obyek akan tampak dengan warna kuning.

Berbeda dengan rona yang hanya menyajikan tingkat kegelapan di dalam ujud hitam putih, warna menunjukkan tingkat kegelapan yang lebih beraneka.

Ada tingkat kegelapan di dalam warna biru, hijau, merah, kuning, jingga, dan warna lainnya.

Meskipun tidak menjelaskan cara pengukurannya, Ester et al. (1983) mengutarakan bahwa mata manusia dapat membedakan 200 rona dan 20.000 warna.

Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa pembedaan obyek pada foto berwarna lebih mudah bila dibandingkan dengan pembedaan obyek pada foto hitam putih.

Pernyataan yang senada dapat diutarakan pula, yakni pembedaan obyek pada citra yang menggunakan spektrum sempit lebih mudah darpada pembedaan obyek pada citra yang dibuat dengan spektrum lebar, meskipun citranya sama-sama tidak berwarna.

Asas inilah yang mendorong orang untuk menciptakan citra multispektral.

Rona dan warna disebut unsur dasar. Hal ini mencerminkan betapa pentingnya rona dan warna di dalam mengenali obyek.

Tiap obyek tampak pertama pada citra berdasarkan rona atau warnanya.

Setelah rona atau warna yang sama dikelompokkan dan diberi garis batas untuk memisahkannya dari rona atau warna yang berlainan, barulah tampak bentuk, tekstur, pola, ukuran dan bayangannya.

Itulah sebabnya maka rona dan warna disebut unsur dasar.

Mengingat pentingnya rona dan warna sebagai unsur dasar, maka perbincangannya akan melebihi unsur interpretasi lainnya.

Perbincangan rona akan meliputi: (1) cara pengukuran rona, (2) faktor yang mempengaruhi rona, (3) cara pengukuran warna, (4) faktor yang mempengaruhi warna.

 

 

 

2. Bentuk

Mencerminkan konfigurasi atau kerangka obyek, baik bentuk umum (shape) maupun bentuk rinci (form) untuk mempermudah pengenalan data.

 

3. Ukuran

Ukuran adalah atribut obyek yang antara lain berupa jarak, luas, volume lereng, ketinggian tempat dan kemiringan.

Ukuran dapat mencirikan obyek sehingga dapat dijadikan sebagai ciri pembeda dengan obyek lainnya

Karena ukuran obyek pada ctra merupakan fungsi skala, maka di dalam memanfaatkan ukuran sebagai unsur interpretasi citra harus selalu diingat skalanya.

Contoh:
Ukuran rumah sering mencirikan apakah rumah itu rumah mukim, kantor, atau industri. Rumah mukim pada umumnya lebih kecil bila dibandingkan dengan kantor atau industri.

Lapangan orlahraga di samping dicirikan oleh bentuk segi empat, lebih dicirikan oleh ukurannya, yaitu sekitar 80 m x 100 m bagi lapangan sepak bola, sekitar 15 m x 30 m bagi lapangan tenis, dan sekitar 8 m x 15 m bagi lapangan bulu tangkis.

Nilai kayu di samping ditentukan oleh jenis kayunya juga ditentukan oleh volumenya. Volume kayu dapat ditaksir  berdasarkan tinggi pohon, luas hutan, serta kepadatan pohonnya, dan diameter batang pohon.

 

4. Tekstur

Tekstur adalah frekuensi perubahan atau pengolangan rona pada citra. Dibedakan menjadi tiga tingkatan yaitu tekstur halus, sedang dan kasar.

Contoh:
Hutan bertekstur kasar, belukar bertekstur sedang, semak bertekstur halus.

Tanaman padi bertekstur halus, tanaman tebu bertekstur sedang, dan tanaman pekarangan bertekstur kasar

Permukaan air yang tenang bertekstur halus.

 

5. Pola

Pola adalah kecenderungan bentuk suatu obyek , misal pola aliarn sungai, jaringan jalan dan pemukiman penduduk.

Pola atau susunan keruangan merupakan ciri bagi beberapa obyek alamiah.

Contoh:
Pola aliran sungai sering menandai bagi struktur geologi, litologi, dan jenis tanah. Pola aliran trellis menandai struktur lipatan.

Pola aliran yang padat mengisyaratkan peresapan air kurang sehingga pengikisan berlangsung efektif.

Pola aliran dendritik mencirikan jenis tanah atau jenis batuan serba sama dengan sedikit atau tanpa pengaruh lipatan maupun patahan.

Pola aliran dendritik pada umumnya terdapat pada batuan endapan lunak, tufa vulkanik, dan endapan tebal oleh gletser yang telah terkikis.

Permukiman transmigrasi dikenali dengan pola yang teratur, yaitu dengan rumah yang ukuran dan jaraknya seragam, masing-masing menghadap jalan.

Kebun karet, kebun kelapa, kebun kopi dan sebagainya mudah dibedakan dari hutan atau vegetasi lainnya dengan polanya yang teratur, yaitu dari pola serta jarak tanamnya.

 

6. Bayangan

Bayangan bersifat menyembunyikan detail atau obyek yang berada pada daerah gelap. Obyek yang berada pada daerah gelap biasanya tidak terlihat atau hanya samar-samar.

Meskipun demikian bayangan sering menjadi kunci penting pada pengenalan beberapa obyek yang justru lebih tampak pada bayangannya.

Contoh:
Cerobong asap, menara, tangki minyak, dan bak air yang dipasang tinggi lebih tampak dari bayangannya.

Tembok stadion, gawang sepak bola, dan pagar keliling lapangan tenis pada foto berskala 1:5.000 juga lebih tampak dari bayangannya.

Lereng terjal tampak lebih jelas dengan adanya bayangan

 

7. Situs

Situs merupakan tempat kedudukan suatu obyek terhadap obyek lain di sekitarnya. Situs bukan merupakan ciri obyek secara langsung, melainkan dalam kaitannya dengan lingkungan sekitarnya.

Situs diartikan dengan berbagai makna oleh para pakar.

Estes dan Simonet (1975), mengartikan situs sebagai letak suatu obyek terhadap obyek lain di sekitarnya. Di dalam pengertian ini, Monkhouse (19740 menyebutkan situasi, seperti misalnya letak kota (fisik) terhadap wilayah kota (administratif), atau letak suatu bangunan terhadap persil tanahnya.

Oleh Vanzuidam (1979), situasi juga disebut situs geografi, yang diartikan sebagai tempat kedudukan atau letak suatu daerah atau wilayah terhadap sekitarnya.

Misalnya letak iklim yang banyak berpengaruh terhadap interpretasi citra untuk geomorfologi.

Menurut Estes dan Simonet (1975), letak obyek terhadap bentang darat seperti misalnya situs suatu obyek di rawa, di puncak bukit yang kering, di sepanjang tepi sungai, dsb.

Situs semacam ini oleh Van Zuidam (1979) disebutkan situs topografi, yaitu letak suatu obyek atau tempat terhadap daerah sekitarnya.

Situs ini berupa unit terkecil dalam suatu sistem wilayah morfologi yang dipengaruhi oleh faktor situs seperti: (1) beda tinggi, (2) kecuraman lereng, (3) keterbukaan terhadap sinar, (4) keterbukaan terhadap angin, (5) ketersediaan air permukaan dan air tanah.

Lima faktor situs ini mempengaruhi proses geomorfologi maupun proses atau perujudan lainnya.

Contoh:
Tajuk pohon yang berbentuk bintang mencirikan pohon palma. Mungkin jenis palma tersebut berupa pohon kelapa, kelapa sawit, sagu, nipah, atau jenis palma lainnya. Bila tumbuhnya menggerombol (pola) dan situsnya di air payau maka yang tampak pada foto tersebut mungkin sekali nipah.

Situs kebun kopi terletak di tanah miring karena tanaman kopi menghendari pengatusan air yang baik.

Situs permukiman memanjang pada umumnya pada igir beting pantai, pada tanggul alam, atau di sepanjang tepi jalan.

 

8. Asosiasi

Asosiasi dapat diartikan sebagai keterkaitan antara obyek yang satu dengan obyek yang lain.

Karena adanya keterkaitan ini maka terlihatnya suatu obyek pada citra sering merupakan petunjuk adanya obyek lain.

Contoh
Disamping ditandai dengan bentuknya yang berupa empat persegi panjang serta dengan ukuran sekitar 100 x 80 m, lapangan sepakbola ditandai dengan adanya gawang yang situsnya pada bagian tengah garis belakangnya. Lapangan sepak bola berasosiasi dengan gawang. Kalau tidak ada gawangnya, lapangan itu bukan lapangan sepak bola. Gawang tampak pada foto udara berskala 1:5.000 atau lebih besar.

Stasiun kereta api berasosiasi dengan jalan kereta api yang jumlahnya lebih dari satu (bercabang)

Gedung sekolah disamping ditandai oleh ukuran bangunan yang relatif besar serta bentuknya yang menyerupai I, L, atau U, juga ditandai dengan asosiasinya terhadap lapangan olah raga. Pada umumnya gedung sekolah ditandai dengan adanya lapangan olah raga di dekatnya.

 

9. Konvergensi Bukti

Di dalam mengenali sebuah obyek pada pada foto udara atau pada citra lainnya, dianjurkan untuk tidak hanya menggunakan satu unsur interpretasi citra.

Sebaiknya digunakan unsur interpretasi citra sebanyak mungkin. Semakin ditambah jumlah unsur interpretasi citra yang digunakan, semakin menciut lingkupnya ke arah titik simpul tertentu.

Inilah yang dimaksud dengan konvergensi bukti, atau bukti-bukti yang mengarah ke satu titik simpul.

Sebagai contoh, misalnya pada foto udara terlihat tetumbuhan yang tajuknya berbentuk bintang.

Pohon tersebut jelas berupa pohon palma, akan tetapi kemungkinannya masih cukup luas. Mungkin palma tersebut berupa pohon kelapa, kelapa sawit, nipah, enau, dan sagu.

Di dalam contoh ini terdapat lima kemungkinan berdasarkan satu unsur interpretasi citra, yaitu berdasarkan bentuk tajuk saja.

Bila ditambah satu unsur interpretasi citra lagi misalnya pola, kemungkinannya akan menjadi lebih menciut.

Misalnya saja tetumbuhan tersebut polanya tidak teratur, maka kemungkinan yang lima itu menciut menjadi tiga yaitu nipah, enau, atau sagu.

Pohon kelapa dan kelapa sawit pada umumnya ditanam  orang dengan pola tanam yang teratur.

Kemungkinan yang tinggal tiga itu akan menciut bila ditambah dengan satu unsur interpretasi lagi, misalnya ukuran.

Bila ukuran tetumbuhan tersebut 10 meter atau lebih, maka kemungkinannya tinggal dua, yaitu enau atau sagu.

Nipah merupakan pohon palma yang tak berbatang yang tinggi tajuknya hanya sekitar 3 meter atau kurang.

Bila ditambah satu unsur interpretasi citra lagi yaitu situsnya di tanah becek dan berair payau, maka kemungkinan tersebut benar-benar menciut menjadi satu titik simpul, yaitu bahwa yang tergambar pada foto tersebut tidak lain kecuali sagu.

Enau merupakan tumbuhan darat yang tidak terdapat pada air payau.

 

 

 

 

 

 

 

J. KOMPONEN SIG

Pada dasarnya istilah sistem informasi geografis merupakan gabungan dari tiga unsur pokok, yaitu sistem, informasi, dan geografis. Sampai saat ini belum ada definisi baku tentang SIG.

 

Pada dasarnya komponen-komponen SIG secara lengkap terdiri atas perangkat keras, perangkat lunak, data, dan manusia.

1) Perangkat Keras
Perangkat keras yaitu komponen SIG yang berupa perlengkapan yang mendukung kerja SIG.

Perangkat keras ini terdiri atas seperangkat komputer seperti:
CPU
monitor,
digitizer,
scanner,
plotter,
CD Room,
floopy
flashdisk.
plastik transparan
bolpoin warna transparan.

 


2) Perangkat Lunak
Perangkat lunak yaitu komponen SIG yang berupa program-program yang mendukung kerja SIG, seperti input data, proses data, output data, disamping program kerja seperti mapinfo dan arc view.

3) Data
Masukan data bisa dilakukan jika data yang diperlukan telah tersedia. Kemudian baru dilakukan pengelolaan data (mengumpulkan, memanipulasi, mengklasifikasi dan analisis).

Tujuan akhir adalah mencetak hasilnya berupa peta, tabel, grafik. Dalam SIG, data yang bisa diproses adalah data spasial.

Data spasial merupakan data yang mempresentasikan fenomena-fenomena yang terdapat di permukaan bumi seperti data posisi dan koordinat.

Daata spasial dibedakan menjadi dua, yaitu data grafis dan data atribut.
Data spasial terdiri atas empat elemen gambar, yaitu tipe titik, garis, area, dan permukaan.

Data atribut disebut juga data tabular atau tematik, yaitu suatu data yang menunjukkan keterangan atau penjelasan dari data spasial.

Data atribut yang bersifat kuantitatif meliputi ordinal, interval, dan rasio.

 


4) Manusia
Komponen manusia sebagai pengguna, yaitu pelaksana yang bertanggungjawab dalam proses pengumpulan, proses analisis, dan publikasi data geografis.

L. TAHAPAN KERJA  SIG

Adapun tahapan-tahapan kerja SIG, sebagai berikut.

1. Pemasukan Data
Proses pemasukan data pada sistem Informasi Geografis bisa dilakukan dengan berbagai cara, antara lain

 

a. Akuisisi

proses akuisisi, digitasi, pembangunan topologi data, tabulasi, pemberian atribut, dan transformasi koordinat.

Proses akuisisi merupakan proses pemasukan dan perekaman data yang kemudian diproses dalam komputer.

Langkah awal ini dilakukan dengan digitasi menggunakan perangkat keras (hardware), seperti meja digitizer, scanner, serta komputer.

Selain hardware, proses pemasukan data ini juga  membutuhkan software. Salah satu software Sistem Informasi Geografis yang telah banyak digunakan oleh beberapa instransi di Indonesia adalah PC Arc Info.

Dengan menggunakan perpaduan antara hardware dan software proses pemasukan data bisa dilakukan.

 

b. Digitasi

Digitasi adalah proses pengubahan data geografi menjadi data vektor. Model data vektor menampilkan, menempatkan, dan menyimpan data spasial dengan menggunakan titik, garis, dan poligon. Data spasialnya didefinisikan oleh sistem koordinat kartesian.

 

c. Topologi Data

Hasil konversi data analog ke format digital melalui digitasi secara otomatis diperoleh topologi atau struktur data. Hasil digitasi sebelum mempunyai struktur topologi disebut data mentah dan belum bisa diproses untuk analisis.

 

d. Tabulasi

adalah proses pemasukan data atribut melalui pembuatan tabel. Dari data tabulasi akan membentuk basis data dalam komputer untuk digunakan pada pengolahan selanjutanya.

 

e. Atribut

Apabila topologi data telah terbentuk, langkah selanjutnya adalah memberikan identitas (ID) atau label pada data-data tersebut.

 

f. Transformasi Koordinat

Transformasi koordinat adalah proses penyesuaian koordinat geografi pada hasil digital yang dilakukan sebelum atau sesudah proses editing.

 

2. Manajemen Pengelolaan Basis Data
Dalam subsistem ini dilakukan pengolahan data dasa. Adapun proses-proses yang dilakukan antara lain:

a. Pengarsipan

Pengarsipan dilakukan untuk menyimpan data-data yang nantinya akan dilakukan untuk analisis. Hal ini juga berguna pada saat pemanggilan data kembali.
Pengarsipan ini tidak hanya pada data dasar hasil digitasi, tetapi juga pada data dasar lain.

b. Pemodelan

Pemodelan merupakan inti dari bagaimana kita memperlakukan data untuk analisis sesuai dengan keinginan pengguna. Pada pemodelan, kita membuat konsep bagaimana membuat atau melakukan analisis terhadan suatu data untuk memperoleh informasi baru.
Pemodelan ini mencerminkan pola pikir kita dalam melakukan analisis data. Pola pikir ini sering digambarkan dalam diagram alir.

 

3. Manipulasi dan Analisis Data
Analisis data spasial dalam Sistem Informasi Geografis, antara lain:

a. Klasifikasi

Klasifikasi adalah proses mengelompokkan data yang berasal dari peta dasar menjadi data spasial yang baru.

Contohnya mengklasifikasikan tata guna lahan untuk permukiman, pertanian, perkebunan, atau hutan (peta tata guna lahan) berdasarkan analisis data kemiringan atau data ketinggian (peta topografi)

b. Overlay

Overlay adalah proses menganalisis dan mengintegrasikan dua atau lebih data spasial yang berbeda.

Contohnya, menganalisis daerah rawan erosi dengan meng-overlaykan (tumpang susun) data ketinggian, jenis tanah, dan kadar air.

c. Networking

Networking adalah analisis yang bertitik tolak pada jaringan yang terdiri atas garis-garis dan titik-titik yang saling terselubung.

Analisis ini sering dipakai dalam berbagai bidang.
Misalnya, sistem jaringan telepon kabel listrik, pipa, minyak atau gas, pipa air minum, atau saluran pembuangan.

d. Buffering

Buffering adalah proses analisis yang akan menghasilkan buffer/penyangga yang berbentuk lingkaran atau poligon yang melingkupi suatu objek sebagai pusatnya, sehingga kita bisa mengetahui berapa parameter objek dan luas wilayahnya.

Buffer bisa digunakan misalnya untuk menentukan jalur hijau, menggambarkan zona ekonomi eksklusif, mengetahui luas daerah yang mengalami tumpahan minyak di laut, dan sebaginya.

e. Tiga Dimensi

Proses analisis tiga dimensi sering digunakan untuk memudahkan pemahaman karena data divisualisasikan dalam bentuk tiga dimensi.

Misalnya digunakan untuk menganalisis daerah yang akan terkenan aliran lava jika gunung api diprediksi akan meletus.

 

 

4. Hasil/Keluaran
Hasil dari proses pengerjaan dengan Sistem Informasi Geografis ada berbagai macam, seperti dalam bentuk hardcopy (peta, tabel, laporan) dan bentuk softcopy (berupa informasi digital).


SKALA KONTUR, KONTUR INTERVAL DAN KEMIRINGAN LERENG 


Kontur adalah garis yang menunjukkan ketinggian yang sama, Garis kontur biasanya terdapat pada peta topografi.  Ciri-ciri kontur:


  •     tidak berpotongan
  •     satu garis menunjjukan satu ketinggian
  •     garis kontur rapat = lereng terjal/curam
  •     garis kontur renggang = lereng landai
  •     angak kontur menunjukkan interval (Ci)
  •     angka kontur dalam satuan meter
  •     lereng terjal cocok untuk wilayah konservasi/hutan dan PLTA
  •     lereng landai cocok untuk wilayah pemukiman, pertanian, dan jalur pendakian

a. Mencari skala peta dari garis kontur

Rumus:
Skala = Ci x 2.000 m

Ci adalah kontur interval / beda tinggi yang didapat dari pengurangan angka ketinggian kontur di garis atas dikurangi angka ketinggian kontur di garis yangbawahnya.

Contoh:
Diketahui dari sebuah peta, selisih garis antar kontur adalah 100 meter. Berapa skala peta tersebut?
a. 1 : 100.000
b. 1 : 150.000
c. 1 : 200.000
d. 1 : 250.000
e. 1 : 300.000

Jawab:
Ci = 100 meter
Skala = Ci x 2000 m
         = 100 m x 2000 m
         = 200.000

Jadi skala peta tersebut adalah 1:200.000

b. Mencari kontur interval/beda tinggi (Ci)

Rumus:
Ci = 1/2000 x skala

Contoh:
Diketahui skala peta topografi adalah 1:100.000. Berapa beda tinggi antar kontur dalam peta tersebut?

a. 5 meter
b. 50 meter
c. 55 meter
d. 500 meter
e. 555 meter

Jawab:
Ci = 1/2000 x skala
    = 1/2000 x 100.000
    = 50

Jadi, beda tinggi antar kontur dalam peta tersebut adalah 50 meter

c. Mencari tinggi kontur pada titik tertentu

Rumus:
{( d1/d2 ) x Ci} x Kc atau
{BC/AC x Ci} x Kc

d1 =jarak B-C pada peta
d2 =jarak A-C pada peta
Ci =kontur interval/beda tinggi
Kc =angka kontur C / di bawah jarak ke-1

Contoh:
Jarak antara kontur A ke kontur B pada peta adalah 5 cm, sedangkan jarak antara kontur B ke kontur C adalah 3 cm. Titik kontur A berketinggian 50 meter dan titik kontur C berketinggian 25 meter. Skala peta adalah 1:50.000. Berapa ketinggian kontur B pada peta tersebut?
a. 34,4 meter
b. 35,4 meter
c. 36,4 meter
d. 37,4 meter
e. 38,4 meter

Jawab:
Cari dahulu kontur intervalnya (Ci)
Ci = 1/2000 x skala
    = 1/2000 x 50.000
    =  25 meter

d1= B-C = 3 cm
d2 = A-C = (B-C) + (A-B) = 3 + 5 = 8  cm

Kx ={( d1/d2 ) x CI} x Kc
     = {3/8 x 25 meter} x 25 meter
     =75/8 x 25 meter
     = 34,4 meter

Jadi, ketinggian titik B pada peta tersebut adalah 34,4 meter

d. Mencari beda tinggi dalam satuan persen (%)

Rumus:
Kemiringan lereng = Beda tinggi/jarak x 100 %  
atau Kemiringan Lereng = Jarak Vertikal / Jarak Horizontal

Contoh;
Diketahui titik kontur X berketinggian 225 meter dan titik Y berketinggiann 125 meter. Jarak antara X-Y pada peta dengan skala 1:50.000 adalah 4 cm. Berapa persen kemiringan lereng X-Y?
a. 25 %
b. 20 %
c. 15 %
d. 10 %
e. 5 %

Jawab:

Rumus: (Beda Tinggi/jarak) x 100 %

1. Cari dulu beda tinggi atau jarak vertikal 
Beda tinggi X-Y = 225 - 125 meter
                         = 100 meter
                         = 10.000 cm

2. Cari juga beda jarak atau jarak horizontal 
Jarak X-Y pada peta 4 cm
Jarak sebenarnya= jarak x skala
                         = 4 x 50.000
                         = 200.000 cm

3 Sekarang masukan rumus Kemiringan Lereng
= (Beda tinggi / jarak) x 100 %
= (10.000/200.000) x 100 %
=  0,05 x 100 %
=  5 %

Jadi, kemiringan lereng X-Y adalah 5 %

e. Mencari beda tinggi dalam satuan derajat

Rumus:
Kemiringan lereng = ( Beda tinggi/jarak  ) x 1 derajat 
              atau           = ( Jarak Vertikal / Jarak Horizontal ) x 1 derajat

Contoh soal sama seperti di atas. Hanya saja satuan persen (%) diganti dengan satuan derajat.

Tags :

bm
Created by: Info Publik News

Info Publik News Cepat Tepat Hangat

Post a Comment