Fakta Seputar Kotak Hitam Pesawat

Tim Search and Rescue (SAR) berhasil menemukan black box alias kotak hitam pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat pada tahun 2012 lalu
IPN - Jakarta. Selain fokus dalam pecarian para korban pesawat Pesawat Lion Air dengan nomor penenerbangan JT 610 lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta pukul 06.20 WIB, tim Basarnas berupaya mencari dan mengangkat black box atau kotak hitam yang ada dalam pesawat  JT 610.


Kotak hitam atau black box adalah sekumpulan perangkat yang digunakan dalam bidang transportasi. Umumnya merujuk kepada perekam data penerbangan (flight data recorder; FDR) dan perekam suara kokpit (cockpit voice recorder; CVR) dalam pesawat terbang.

Fungsi dari kotak hitam sendiri adalah merekam pembicaraan antara pilot dan pemandu lalu lintas udara atau air traffic control (ATC). Selain itu juga untuk mengetahui tekanan udara dan kondisi cuaca selama penerbangan.

Walaupun dinamakan kotak hitam tetapi sesungguhnya kotak tersebut tidak berwarna hitam melainkan berwarna jingga (oranye). Pemberian nama kotak hitam hanyalah sebuah istilah. Pemberian warna terang dimaksudkan untuk memudahkan pencarian jika pesawat itu mengalami kecelakaan.

Penempatan kotak hitam ini dilakukan sedemikian rupa sehingga mudah ditemukan. Umumnya terdapat dua unit kotak hitam yang diletakkan pada bagian depan pesawat dan bagian ekor pesawat,  dimana kotak hitam ini tidak mudah hancur meskipun terjadi pesawat meledak hancur berkeping-keping.

 
Berikut beberapa fakta tentang kotak hitam pesawat dari berbagai sumber :
Pertama, yang sering disebut "black box" sebenarnya terdiri dari dua alat perekam, yaitu perekam data penerbangan (flight data recorder) dan perekam suara di cockpit (cockpit voice recorder). Karena ada dua alat perekam, sering juga disebut "black boxes".


Kedua, "black box" sebenarnya berupa tabung berwarna jingga, agar mudah kelihatan dari jauh dan bisa ditemukan dengan cepat. "black box" modern hanya sebesar kotak sepatu.


Ketiga, tabung "black box" mampu menahan bantingan dari ketinggian, kedap air sampai kedalaman 6.000 meter dan tahan panas sampai suhu di atas 1.000 derajat Celcius selama sedikitnya 30 menit. Karena itu, tabung "black box" pesawat tidak mudah rusak.


Keempat, biasanya "black box" ditempatkan di badan pesawat pada bagian yang tidak mudah rusak dan terlindung dengan baik. Ini tergantung dari konstruksi pesawat. Biasanya di bagian tengah atau bagian belakang dekat roda pesawat.


Kelima, alat perekam memiliki sistem sinyal darurat berupa sinyal "ping" yang bisa digunakan untuk mendeteksi lokasinya. Jika tenggelam di air, sinyal segera dikirim secara otomatis sampai 30 hari, tergantung pada kapasitas baterai.


Keenam, untuk mendeteksi posisi "black box" di bawah air, tim pencari bisa menggunakan mikrofon bawah air atau detektor sonar.


Dalam beberapa kasus kecelakaan pesawat, "black box" baru ditemukan beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun kemudian.


Piranti Bagian pertama "black box" ialah "flight data recorder" yang mencatat seluruh data saat terbang, termasuk kecepatan pesawat, tinggi dari permukaan bumi, kekuatan dan sebagainya. Adapun bagian kedua ialah "cockpit voice recorder" yang merekam seluruh pembicaraan yang ada dalam kokpit.


Tidak hanya suara percakapan pilot dan kopilot yang direkam, namun juga beragam petunjuk penting, seperti suara mesin, suara alarm, bahkan suara kursi yang digeser jika kru bergerak.


Tidak mengapung Kotak hitam terbuat dari baja, berbobot 10 kilogram dan memiliki panjang 49,7 centimeter. Lantaran bobotnya, kotak hitam tidak bisa mengapung dan akan langsung tenggelam ke dasar lautan.

Oleh sebab itu, ketika pesawat Air France AF 447 jatuh ke Samudera Atlantik pada 2009 lalu, tim pencari baru menemukan kotak hitam di daerah pegunungan bawah air di Samudera Atlantik, dua tahun setelah pesawat jatuh.



Subscribe to receive free email updates: