![]() |
| Tanam perdana dukung Swasembada |
AMUNTAI – Program swasembada pangan yang dijalankan pemerintah mulai menunjukkan hasil di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Percepatan masa tanam, peningkatan luas tanam, perbaikan tata kelola air, serta pemanfaatan teknologi pertanian modern mulai mendorong peningkatan produktivitas dan optimisme petani.
Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Sungai Pandan, Widya Dewi, mengatakan target Luas Tambah Tanam (LTT) HSU tahun 2026 sebesar 17.712 hektare yang meningkat dibanding tahun sebelumnya dan produktivitas padi tertinggi di Kalimantan Selatan sebesar 55,68 kuintal per hektare menjadi indikator positif bagi penguatan ketahanan pangan daerah.
"Perkembangan tanam sekarang lebih baik. Petani bisa memulai tanam lebih cepat karena kondisi tata air di sejumlah lokasi semakin membaik, salah satunya melalui Program Optimasi Lahan," ujarnya.
Menurut Widya, Kecamatan Sungai Pandan yang memiliki sekitar 4.445 hektare lahan sawah sebelumnya kerap mengalami genangan pada awal musim tanam sehingga menghambat pengolahan lahan. Seiring pelaksanaan Program Optimasi Lahan (OPLAH), perbaikan jaringan tata air, dan pengelolaan kawasan Polder Alabio, kondisi di sejumlah areal pertanian mulai membaik.
"Air lebih cepat surut sehingga petani dapat mengolah lahan lebih awal. Dampaknya, masa tanam menjadi lebih cepat dan peluang meningkatkan indeks pertanaman semakin besar," jelasnya.
Ia menambahkan, pemerintah juga mendukung peningkatan produksi melalui penyaluran benih unggul, pupuk, traktor, alat dan mesin pertanian (alsintan), drone pertanian beserta pelatihan operator, hingga excavator untuk mendukung penataan lahan rawa lebak dan saluran pertanian. Penyuluh pertanian turut mendampingi petani agar pemanfaatan bantuan dan penerapan teknologi budidaya berjalan optimal.
Menurut Widya, berbagai program strategis seperti pengembangan kawasan Agrominapolitan, Brigade Pangan, Gerakan Tanam Padi, Optimasi Lahan (OPLAH), perbaikan infrastruktur pertanian, serta rencana Cetak Sawah Rakyat semakin memperkuat upaya mewujudkan swasembada pangan di HSU.
Pendapat senada disampaikan Ketua KTNA Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Budhi Rakhmadi, menilai keterlibatan akademisi melalui riset, pendampingan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), serta mahasiswa Praktik Kerja Mahasiswa (PKM) STIPER Amuntai secara langsung memberikan manfaat nyata bagi petani.
Melalui pendampingan dan forum diskusi yang melibatkan akademisi serta mitra internasional, kelompok tani memperoleh ruang bertukar pengetahuan dan mencari solusi atas berbagai tantangan pertanian, khususnya pengelolaan tata air di HSU.
Menurut Budhi, kesejahteraan petani juga meningkat seiring kebijakan pemerintah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Kering Panen (GKP) sebesar Rp6.500 per kilogram serta penugasan BULOG menyerap hasil panen.
"Petani sekarang lebih optimistis karena hasil panennya memiliki kepastian pasar dan harga yang lebih baik. Program swasembada pangan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memberikan jaminan pendapatan yang lebih layak bagi petani," katanya.
Ia berharap sinergi antara petani, penyuluh, pemerintah, perguruan tinggi, dan seluruh pemangku kepentingan terus diperkuat agar produktivitas pertanian HSU meningkat dan target swasembada pangan nasional dapat tercapai.
