![]() |
| Ketua Dewan Kabupaten Kotabaru (DKKK), H Ahmad Fitriadi |
KOTABARU- Gemuruh riuh yel-yel pendukung dan sorot lampu panggung Gedung Paris Barantai pada Sabtu malam lalu tidak sekadar menandai berakhirnya kompetisi mahaketat Pemilihan Nanang Galuh Kebudayaan Kabupaten Kotabaru 2026, Minggu (19/7/26).
Di balik sepasang senyum kemenangan Ahmad Raihan Arfan dan Anugerah Nur Rachmadhina yang dinobatkan sebagai jawara utama, tersimpan sebuah estafet tanggung jawab besar untuk merawat, menjaga, dan menghidupkan kembali akar tradisi di Bumi Saijaan di tengah gempuran modernitas digital yang kian deras.
Persaingan tahun ini terasa jauh lebih berwarna dan dinamis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, merefleksikan tingginya antusiasme generasi muda Kotabaru untuk kembali menengok identitas kulturalnya.
Latar belakang para finalis yang sangat beragam mulai dari pelajar sekolah menengah yang enerjik, mahasiswa aktif yang kritis, hingga deretan sarjana dengan pemikiran matang memaksa dewan juri bekerja ekstra keras guna menetapkan siapa yang paling layak menyandang gelar tertinggi ini.
Di balik ketatnya penilaian objektif itu, hadir sosok penting yang mengawal jalannya standardisasi kualitas para calon duta, yakni Ketua Dewan Kabupaten Kotabaru (DKKK), H Ahmad Fitriadi. Bersama jajaran juri kompeten lainnya seperti Minggu Basuki, H. Selamat Riyadi, Dewi Anita Aprilianti, dan Gusti Andre Darmawan, sidang juri berjalan sangat profesional demi memastikan bahwa keputusan akhir bersifat mutlak, adil, dan tidak dapat diganggu gugat demi marwah kebudayaan daerah.
Ditemui di sela-sela kemeriahan pasca-penobatan, H. Ahmad Fitriadi tidak dapat menyembunyikan rasa kagum sekaligus harapannya yang membubung tinggi melihat potensi luar biasa dari tunas-tunas muda yang tampil di atas panggung.
Pria yang akrab disapa H Fitri ini menegaskan bahwa ajang Pemilihan Nanang Galuh Kebudayaan tahun ini berjalan sangat luar biasa dan memberikan angin segar bagi ekosistem kesenian daerah.
"Pemilihan Nanang dan Galuh Kebudayaan tahun ini luar biasa. Harapannya ke depan tentu kita ingin ini lebih ditingkatkan, terutama dari partisipasi anak-anak muda kita dan potensi-potensi yang mereka miliki," ujar H Ahmad Fitriadi.
Bagi Fitriadi, keterlibatan aktif generasi muda bukan sekadar pelengkap seremonial tahunan atau ajang adu bakat visual semata.
Ia memandang momentum ini sebagai batu loncatan strategis yang sangat penting untuk memperkenalkan kekayaan orisinal kebudayaan Kotabaru, agar mampu menembus batasan wilayah dan bergema kuat di lingkup nasional hingga internasional.
Kendati demikian, di tengah optimisme yang membara, Ketua DKKK Kotabaru ini tetap memberikan catatan evaluasi yang mendalam dan visioner untuk mempersiapkan tantangan kebudayaan di masa depan.
Beliau menitikberatkan bahwa untuk melangkah ke panggung yang lebih luas, perbaikan kualitas diri dari para pemenang merupakan sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Menurut Fitriadi, aspek pertama yang wajib diperbaiki dan ditingkatkan secara berkelanjutan adalah kapasitas intelektual serta keterampilan personal dari masing-masing Nanang dan Galuh terpilih.
Tugas sebagai duta budaya menuntut mereka tidak hanya menawan secara penampilan, tetapi juga tajam dalam pemikiran dan fasih dalam bertutur kata.
Secara spesifik, ia menjabarkan empat pilar utama yang harus dikuasai dengan matang oleh para pemenang, yakni kemampuan berbahasa yang inklusif untuk menjangkau audiens global, kedalaman pengetahuan akan adat dan kebudayaan lokal agar tidak kehilangan jati diri, serta penguatan kepercayaan diri yang kokoh saat berdiri mempresentasikan Kotabaru di hadapan publik luas.
"Ke depannya, kami kira yang pertama yang perlu lebih diperbaiki adalah peningkatan kualitas dari Nanang dan Galuh itu sendiri. Mulai dari kemampuan berbahasa, pengetahuan akan kebudayaan, kemudian kepercayaan diri. Ini menjadi salah satu hal yang sangat penting, saya kira," tutupnya mengakhiri.
Reporter: Jumadil.
