Notification

×

Iklan

Iklan

Menjemput Fajar Sepak Bola Pesisir, Ketika Peluit Pertama Teluk Aru Cup Membakar Gairah dan Jiwa Juara di Bumi Saijaan

Sunday, June 14, 2026 | 14 June WIB Last Updated 2026-06-14T13:38:02Z


Pembukaan 

 

KOTABARU – Sore, Minggu, 14 Juni 2026, angin pesisir berembus membawa aroma garam yang khas di Lapangan Ismail, Desa Teluk Aru


Namun, udara di Kecamatan Pulau Laut Kepulauan tersebut mendadak terasa lebih hangat. Ratusan pasang mata berjubel di pinggir lapangan yang beralaskan tanah dan rumput seadanya. 


Sorak-sorai riuh rendah bersahutan. Di Bumi Saijaan, gairah si kulit bundar kembali menyala lewat pergelaran Teluk Aru Cup "Kotabaru Hebat" 2026.

Ini bukan sekadar kompetisi semenjana. Bagi publik sepak bola Kotabaru, turnamen ini adalah pelepas dahaga.


"Ini adalah pertandingan sepak bola pertama yang diadakan di Kotabaru pada tahun ini," kata Samsul Bahri, Ketua Askab PSSI Kotabaru, dengan raut wajah semringah saat ditemui di sela acara.


Samsul tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Berdiri di antara riuhnya penonton, ia bercerita bagaimana kompetisi ini bisa terwujud berkat sokongan patungan dari Pemerintah Daerah dan KONI Kotabaru


"Kompetisi tahun ini akan terus kami evaluasi agar ke depan pelaksanaan turnamen bisa berjalan jauh lebih baik dan berkelanjutan," ujarnya, menatap optimis ke arah lapangan.


Ketika matahari mulai condong ke barat, giliran Ketua KONI Kotabaru yang mengambil panggung. Nada bicaranya berapi-api, memecah gemuruh angin pantai. Ia memandang para pemain yang berdiri tegap dengan jersi warna-warni sebagai mutiara yang terpendam.


Menurut Ketua KONI, wilayah pesisir adalah inkubator alami bagi atlet berfisik kuat dan bermental baja. Tantangan alam pesisir secara tidak langsung menempa fisik para pemuda di sana.


"Kita harus membuka mata lebar-lebar," pekiknya retoris. "Banyak pemain hebat Timnas kita dulu bukan lahir dari stadion megah dengan fasilitas mewah. Mereka mengasah mental dan menggiring bola di kampung-kampung melalui turnamen tarkam seperti ini. Di kerasnya kompetisi akar rumput inilah mental juara sejati diuji."


KONI Kotabaru tampaknya tak main-main. Mereka berkomitmen menjemput bakat-bakat terisolasi di Pulau Laut Kepulauan untuk dibawa ke panggung nasional. Namun, ada satu syarat mutlak yang digaris bawahi dengan tebal: sportivitas.


"Pesan saya jelas dan tegas, jaga sportivitas tanpa tawar-menawar! Menang atau kalah itu biasa. Bagi yang juara jangan sombong, yang kalah pulanglah dengan kepala tegak. Jangan ada tindakan anarkis. Begitu peluit panjang berbunyi, rivalitas selesai karena kita semua adalah saudara," ucapnya, mengingatkan esensi terdalam dari sebuah permainan.


Aroma persaudaraan itu pula yang ditangkap oleh Pemerintah Kabupaten Kotabaru. Hadir mewakili Bupati, Staf Ahli Bidang SDM dan Kemasyarakatan, Akhmad Rajudinoor, membacakan selembar pesan tertulis dari orang nomor satu di Bumi Saijaan tersebut.


Bagi pemerintah daerah, sepak bola di Teluk Aru telah bermutasi menjadi ruang sosial yang intim.


"Turnamen seperti ini bukan hanya sekadar ajang kompetisi olahraga, tetapi juga wadah untuk membangun kebersamaan dan silaturahmi masyarakat," tutur Rajudinoor, menjabarkan visi Bupati.


Di tengah tensi kompetisi yang berpotensi memanas, Rajudinoor juga menitipkan pesan pengawalan. Ia meminta seluruh lapisan masyarakat menjaga kondusivitas. 


Sorot matanya kemudian tertuju pada korps baju hitam yang akan memimpin jalannya laga.


"Kepada tim wasit dan panitia pelaksana, saya meminta agar bertindak objektif, adil, dan memastikan tidak ada kecurangan sedikit pun demi menjaga marwah turnamen ini," pungkasnya tegas.


Repoter: Jumadil.

×
Berita Terbaru Update