Notification

×

Iklan

Iklan

Selamatan Leut Jadi Puncak FBS 2026, Wujud Syukur Masyarakat Bajau Samah, Begini Prosesinya

Thursday, July 30, 2026 | 30 July WIB Last Updated 2026-07-30T02:53:01Z

 

Tradisi nelayan Kotabaru


KOTABARU – Ritual adat Selamatan Leut kembali menjadi puncak kemeriahan Festival Budaya Saijaan (FBS) 2026 yang masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 Kementerian Pariwisata RI. 


Ribuan masyarakat memadati kawasan Siring Laut dan Rampa Berkah, Minggu (26/7/26) hingga mengikuti iring-iringan ratusan perahu menuju Gusung Balienteang untuk menyaksikan prosesi sakral masyarakat Bajau Samah.


Sejak pagi, ratusan perahu membawa tokoh adat, nelayan, masyarakat, wisatawan, hingga seniman berlayar menuju lokasi ritual. Di atas perahu, para tetua adat membawa berbagai perlengkapan upacara, seperti lakatan tujuh warna, kue rampa, dan sesaji yang menjadi bagian dari tradisi turun-temurun masyarakat Bajau Samah.


Prosesi dipimpin oleh Sandro Adat Bajau Samah, Hamdani, yang memanjatkan doa keselamatan bagi masyarakat pesisir, para nelayan, serta memohon keberkahan hasil laut.


Hamdani mengatakan, Selamatan Leut merupakan tradisi warisan leluhur yang menjadi bentuk rasa syukur masyarakat Bajau Samah kepada Allah SWT atas rezeki dan kehidupan yang diberikan melalui laut.


“Tradisi ini bukan untuk menyembah laut. Kami hanya berdoa kepada Allah SWT sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang diberikan dan memohon keselamatan bagi seluruh masyarakat, khususnya nelayan yang setiap hari mencari nafkah di laut,” ujarnya.


Menurut Hamdani, ritual tersebut juga menjadi pengingat agar manusia selalu menjaga kelestarian laut sebagai sumber kehidupan.


Ia menjelaskan, penancapan bambu adat yang dilakukan di tengah laut memiliki makna agar masyarakat tetap hidup berdampingan dengan alam, menjaga keseimbangan lingkungan, serta menghormati warisan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.


“Kalau laut kita jaga, insyaallah laut juga akan memberikan kehidupan kepada anak cucu kita. Karena itu, tradisi ini terus kami lestarikan agar generasi muda tidak melupakan adat dan budaya Bajau Samah,” katanya.


Di tengah masyarakat Bajau Samah juga hidup sebuah kepercayaan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Saat ritual berlangsung, air laut di sekitar lokasi diyakini berubah menjadi tawar sebagai simbol datangnya berkah dan terkabulnya doa. Karena itu, banyak masyarakat turun ke laut untuk meminum air tersebut ataupun membawanya pulang sebagai lambang harapan dan keselamatan.


Ritual Selamatan Leut menjadi salah satu daya tarik utama Festival Budaya Saijaan 2026. Selain disaksikan ribuan masyarakat Kotabaru, prosesi ini juga menarik perhatian wisatawan, pegiat budaya, dan tamu dari berbagai daerah yang ingin melihat secara langsung tradisi sakral masyarakat Bajau Samah.


Masuknya Festival Budaya Saijaan dalam Karisma Event Nusantara 2026 semakin memperkuat posisi Kotabaru sebagai daerah yang tidak hanya memiliki keindahan alam, tetapi juga kekayaan budaya yang tetap hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui Selamatan Leut, masyarakat Bajau Samah menunjukkan bahwa laut bukan sekadar sumber penghidupan, melainkan bagian dari identitas yang harus dijaga, dihormati, dan disyukuri.


Reporter: Jumadil.

×
Berita Terbaru Update