Notification

×

Iklan

Iklan

Forum Budaya Bajau Samah, Menjaga Warisan Bahari dari Bumi Saijaan

Thursday, July 30, 2026 | 30 July WIB Last Updated 2026-07-30T10:11:47Z

 

Foto bersama


KOTABARU – Laut bagi masyarakat Bajau Samah bukan sekadar tempat mencari nafkah. Di sanalah lahir tradisi, nilai kehidupan, hingga identitas budaya yang terus dijaga lintas generasi.


Pesan itu mengemuka dalam Forum Diskusi Budaya Bajau Samah Nusantara, Jumat (24/7/2026), di Aula Masjid Apung Siring Laut yang menjadi salah satu rangkaian Festival Budaya Saijaan (FBS).


Forum tersebut dimoderatori oleh Rony Syafriansyah, S.I.Kom., Sekretaris Dewan Kesenian Kabupaten Kotabaru yang selama ini aktif dalam pelestarian seni dan budaya di Bumi Saijaan.


Kegiatan ini menghadirkan Presiden Persatuan Orang Samah Bajau Indonesia (POSBI), Erni, S.Pd., M.Hum., serta Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Kotabaru, H. A. Fitriadi Faz, S.H., M.Hum., sebagai narasumber.


Dalam paparannya, kedua narasumber mengulas sejarah panjang masyarakat Bajau Samah, filosofi kehidupan yang tak terpisahkan dari laut, hingga pentingnya melestarikan adat dan tradisi sebagai jati diri masyarakat pesisir, khususnya di Kabupaten Kotabaru.


Presiden POSBI, Erni, menegaskan pentingnya meluruskan pandangan masyarakat terhadap keberadaan Suku Bajau.


“Selalu ada asumsi bahwa yang namanya Bajau itu ya Labuan Bajo atau Sulawesi. Padahal saat ini kami di POSBI sedang mendata, ada 17 provinsi di Indonesia yang bermukim masyarakat Bajau. Suku ini masih ada yang nomaden dan seminomaden,” ujarnya.


Ia juga menegaskan bahwa Bajau merupakan aset budaya bangsa yang harus terus dijaga.


“Bajau itu adalah aset budaya bangsa yang harus kita lestarikan dan pertahankan. Ini benar-benar aset besar, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang memelihara budayanya,” tegas Erni.


Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Kotabaru, H. A. Fitriadi Faz, menambahkan bahwa keberagaman budaya tersebut selaras dengan filosofi Bumi Saijaan.


“Keberagaman budaya ini dalam konteks moto Kabupaten Kotabaru, Sa-ijaan, adalah seia sekata, sejalan, dan setujuan. Festival Budaya Saijaan adalah rumah bersama untuk merawat keberagaman dan melestarikan seluruh budaya etnis yang ada di Kotabaru dalam rangka menjaga persatuan,” paparnya.


Dukungan serupa disampaikan Kepala Bidang Pertunjukan, Event, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Rudi Nugraha. Ia menyebut forum budaya menjadi bagian dari upaya menjadikan Festival Budaya Saijaan bukan sekadar hiburan, tetapi juga ruang edukasi dan pelestarian budaya.


Forum berlangsung interaktif. Ratusan peserta yang terdiri dari masyarakat adat, pelajar, guru, pegiat budaya, hingga masyarakat umum tampak antusias mengikuti jalannya diskusi. Berbagai pertanyaan dan pandangan disampaikan sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian budaya lokal di tengah arus modernisasi.


Melalui forum tersebut, Festival Budaya Saijaan kembali menegaskan perannya sebagai ruang edukasi sekaligus pelestarian budaya yang mampu menarik perhatian wisatawan. Salah satu tradisi yang menjadi daya tarik utama adalah Selamatan Laut, ritual sakral masyarakat Bajau Samah sebagai ungkapan syukur atas rezeki laut sekaligus doa keselamatan bagi para nelayan.


Keunikan tradisi inilah yang menjadi salah satu kekuatan hingga Festival Budaya Saijaan kembali masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Melalui event bergengsi ini, Pemerintah Kabupaten Kotabaru berharap kekayaan budaya pesisir semakin dikenal luas sekaligus mampu mendorong pariwisata dan perekonomian masyarakat berbasis kearifan lokal.


Salah seorang peserta forum, Ernanda Rizki Aprisya, S.Pd., guru SMKN 1 Kotabaru, mengaku memperoleh banyak wawasan baru dari kegiatan tersebut. Menurutnya, forum budaya seperti ini penting untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap keberagaman budaya maritim yang tumbuh di Kabupaten Kotabaru.


“Banyak informasi yang saya dapatkan dari Forum Diskusi Bajau Samah pada hari ini. Tentunya Kabupaten Kotabaru merupakan wilayah kepulauan pesisir yang menjadi titik temu berbagai suku maritim. Selain hubungan antarsuku di Kotabaru terjalin sangat erat dan harmonis, juga terjadi pertukaran pengetahuan. Misalnya, Suku Bajau yang ahli melaut belajar ilmu agama Islam dari tokoh agama Suku Banjar, sementara masyarakat Banjar menikmati hasil laut yang dijual oleh masyarakat Bajau Samah. Harmoni seperti inilah yang harus terus dijaga dan diwariskan,” ujarnya.


Forum ini menjadi pengingat bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas hidup yang harus dipahami, dirawat, dan diwariskan agar tetap lestari serta semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.


Reporter: Jumadil

×
Berita Terbaru Update