![]() |
| Foto bersama |
TANJUNG SERDANG- Matahari di ufuk barat Tanjung Serdang mulai meredup, menyisakan semburat jingga yang memantul di riak air selat Pulau Laut.
Di tengah deru mesin feri yang tak henti mengangkut rindu para pemudik, sekelompok orang berseragam merah-hitam tampak sibuk.
Mereka bukan sedang menggelar ujian di atas kertas, melainkan sedang mempraktekkan mahakarya dari sebuah proses belajar yaitu Kepedulian.
Sore Kamis (19/3/26) di hari ke-29 Ramadan 1447 H, keluarga besar Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Merah Putih Salino memilih turun ke jalan.
Dari tangan para tutor dan warga belajar, berpindah ratusan paket takjil ke tangan para musafir yang tengah mengantri di dermaga penyeberangan Kotabaru- Batulicin.
Bagi Ibu Harmiyanti, koordinator aksi, apa yang mereka lakukan adalah pengejawantahan dari filosofi bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara. Beliau pernah berpesan.
"Maksud pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat."
"Pendidikan sejati itu tidak diukur dari seberapa tebal buku yang dibaca, tapi dari tindakan nyata," ujar Harmiyanti dengan nada mantap.
Baginya, PKBM bukan sekadar tempat mengejar ijazah formal, melainkan ruang untuk mengasah nurani agar bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya.
Uniknya, aksi ini tidak lahir dari proposal sponsor yang kaku. Ibu Icha, pengurus PKBM, membisikkan bahwa setiap paket takjil yang dibagikan adalah buah dari semangat kolektif.
Uang dikumpulkan secara mandiri, dari kantong para tutor hingga recehan warga belajar yang ingin ikut menitipkan doa.
Hardeny, seorang tutor yang baru bergabung, merasa sore itu seperti sebuah momentum kelulusan.
"Ini ibarat final project. Ujian akhir dari pembelajaran spiritual selama sebulan penuh. Kita tidak lagi bicara teori pahala, tapi merasakan langsung kebahagiaan saat berbagi," tuturnya.
Abdul Gani, sang koordinator lapangan menambahkan bahwa inti dari gerakan ini adalah silaturahmi. Angka 100 paket takjil mungkin terasa kecil bagi sebagian orang, namun nilai kebersamaan yang terjalin antara pendidik dan peserta didik di lapangan adalah kurikulum yang tak ternilai harganya.
Doa-doa pun melangit. Ibu Masrufah, tutor Bahasa Inggris, berharap napas kegiatan ini tak berhenti di sini.
Ia ingin tahun-tahun mendatang, PKBM Merah Putih Salino tetap konsisten menjadi oase kecil bagi para pelintas jalan di Desa Salino.
Ketika azan magrib berkumandang, aksi itu pun ditutup dengan buka puasa bersama yang hangat.
Saifullah Ketua Yayasan PKBM Merah Putih Salino memberikan pesan penutup yang sarat makna.
“ini bukan soal siapa yang paling hebat, tapi soal kemampuan untuk bergerak bersama,” jelas Saifullah.
Di gerbang feri Tanjung Serdang, mereka telah membuktikan bahwa pendidikan tidak selamanya terpenjara di dalam ruang kelas.
Kadang, pelajaran terbaik justru ditemukan di aspal jalanan, di bawah terik matahari, dan di dalam senyuman seorang musafir yang menerima sebungkus takjil dengan penuh syukur.
Reporter: Jumadil.
