![]() |
| Foto bersama petani di Tabunganen |
TABUNGANEN – Terik matahari di Desa Sungai Teras Dalam, Kecamatan Tabunganen Kabupaten Barito Kuala, tak menyurutkan semangat belasan anak muda ini.
Mengenakan atribut biru tua khas almamaternya, mereka tak ragu melepas alas kaki, menggulung celana, hingga membiarkan kaki mereka terbenam dalam lumpur sawah yang dingin.
Ini bukan sekadar kunjungan formalitas demi menggugurkan kewajiban akademik. Kelompok 22 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al Banjari sedang mencoba menyelami realitas paling akar rumput di Barito Kuala, Bertani.
Di atas hamparan hijau sawah, para mahasiswa ini membaur bersama petani, belajar bagaimana peluh dan kesabaran menjadi bahan baku utama ketahanan pangan.
"Kami ingin merasakan langsung. Bahwa ketahanan pangan itu bukan cuma teori di atas kertas atau diskusi di ruang kelas, tapi soal kerja keras di lapangan," ujar Mahdalina, Koordinator Acara Kelompok 22.
Bagi Mahdalina dan kawan-kawan, terjun ke sawah adalah bentuk pembelajaran kontekstual. Mereka ingin membangun kesadaran bahwa tanggung jawab memberi makan bangsa juga ada di pundak generasi muda, khususnya mahasiswa Uniska.
Langkah taktis mahasiswa ini mendapat jempol dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Muhammad Hendri Yanova. Ia menilai, terjunnya mahasiswa ke lumpur sawah adalah bentuk pengabdian yang sangat aplikatif dan berdampak nyata.
"Ini baru namanya pengabdian. Mereka merasakan langsung kondisi riil di lapangan. Dampaknya bukan cuma untuk masyarakat, tapi juga menempa mental mahasiswa itu sendiri dalam upaya memperkuat pangan desa," kata Hendri bangga.
Kehadiran pasukan kampus ini menjadi pemandangan unik sekaligus penyemangat bagi warga di pelosok Barito Kuala tersebut.
Kepala Desa Sungai Teras Dalam, Normansyah, mengaku terharu melihat anak-anak muda zaman sekarang yang masih mau kotor-kotoran di sawah demi membantu warganya.
"Kami sangat terbantu. Sinergi seperti ini yang kami cari. Kehadiran mahasiswa Uniska menjadi motivasi tambahan bagi petani kami. Ada semangat baru yang dibawa anak-anak muda ini ke desa kami," tutur Normansyah.
Di sela tawa dan obrolan ringan di gubuk sawah, sebuah harapan tumbuh. Kolaborasi ini diharapkan tak hanya berhenti saat masa KKN usai, namun menjadi benih awal bagi Desa Sungai Teras Dalam untuk terus mandiri dan kokoh sebagai lumbung pangan lokal yang harmonis dengan dunia akademik. (**)
Sumber: IPN
Penulis: Jumadil
Uploader: Tim

