-->

Tatamba dan Syarat 'Pulang'






Oleh: Kadarisman
(Praktisi & Konsultan PFH dan SEFT Healing)


Di hari ulang tahun ke 147, pada 2016 lalu Mbah Gotho yang asal asal Sragen bertambah usianya. Sudah 1.5 abad umurnya. Tetapi ia merasa sama sekali tak istimewa. Kado dan hadiah tak membuatnya suka hati. Permintaan dan doanya hanya satu; bisa cepat "pulang" keharibaan Tuhan.

Mbah Gotho merasa terlampau lama melewati kehidupan ini, hingga ia pun kehilangan hasrat dan berat untuk melanjutkannya. Tapi apalah daya, Tuhan belum berkenan memanggilnya.

Di Australia, David Gooddall juga begitu. Usianya jauh di bawah Mbah Gotho, 104 tahun. Pada 2018 lalu, pria asal Inggris tersebut bengupayakan jalan hukum hingga ke luar negerinya asalkan dapat "pulang" dan meninggalkan dunia.

Mbah Gotho dan David Goooddall dua dari sedikit orang yang dipandang aneh. Di sementara orang berdoa panjang umur, mereka pengin kematian. Secara ekonomi mereka cukup. Mereka juga tidak dari kalangan religius atau sufi yang lagi kasmaran kepada Tuhan.

Pertanyaannya, kenapa?

Tuhan menjawab, karena memang dunia bukanlah tujuan sejati manusia. Laksana perjalanan, dunia tak ubahnya persinggahan yang rindu akan sampai pada kediamannya. Begitu Tuhan jadikan fitrahnya.

Ketika Tuhan ciptakan kehidupan, manusia bukanlah dimulakan dari dunia. Ia datang dari kehidupan yang bahkan tak bisa disebut. Sebagaimana Tuhan ciptakan Ikhwal pertama manusia, alam penghidupan sejatinya adalah surga, tempat mulia manusia bersama malaikat-malaikat.

Sebagaimana Adam dan Hawa yang memikul taqdirnya menapaki dunia, berkeluarga, beranak berketurunan, berpenghidupan, bahkan berselisih paham. Kian waktu kian bertambah dinamikanya hingga pada keadaan kita pun kehilangan tujuan untuk "pulang". Di sini kemudian pangkal sebab kenapa manusia lupa bertanam kebaikan. Lupa jika fitrahnya pasti ingin pulang. Seperti Mbah Gotho dan David tadi yang belum bisa pulang, walau ingin sekali.

Tuhan telah memastikan, apa yang diberi-Nya penghidupan pasti akan pulang. Tetapi melalui satu syarat, yakni kematian. Kematian lah jalan kehidupan menuju pintu untuk pulang. Seberapapun kuat manusia ingin bertahan, satu saat kemudian ia pasti akan rindu akan pulang ke negeri asalnya, surga. Di negeri itulah fitrah manusia sejati. Dari sana asal mula kita berasal. Kelak nanti pulang, surga itulah tempat kembalinya.

Tetapi ada sedihnya! Ada pertanyaan hal apa yang membuat kita layak kembali dan masuk ke rumah surga? Adakah negeri lainnya selain surga? Di mana Tuhan menjadikan tempat lain itu sebagai wadah pencucian segala perbuatan jahat selama kehidupan. Tempat di mana Tuhan membuktikan janjinya untuk setiap diri yang ingkar? Jangan-jangan!?

Namun Tuhan Maha memberi kesempatan. Dia bentangkan satu tatamba untuk semua keingkaran. Jika tatamba itu dapat diminum sebagaimana petunjuk pakainya, terbukalah kesempatan untuk pulang ke tempat  fitrah yang sebenarnya. Apakah tatamba itu? Ialah Ramadhan. Bagaimana menggunakan Ramadhan? Saya pun tak tahu. Tapi itulah tatamba. Selamat betatamba!.



Tags :

bm
Created by: Infopubliknews

Info Publik News Cepat Tepat Hangat

Post a Comment