Notification

×

Iklan

Iklan

Tak Sedarah, Tapi Satu Keluarga, Perantau Makassar di Kotabaru Menepis Rindu Kampung Halaman

Sunday, August 9, 2026 | 09 August WIB Last Updated 2026-08-09T00:57:45Z
Silaturahmi warga Makassar di Kotabaru


KOTABARU – Malam itu, suasana Aula Hotel Grand Surya Kotabaru terasa berbeda. Puluhan orang tampak mengenakan pakaian berwarna putih dan kuning. Mereka datang dari berbagai latar belakang dan daerah asal di Sulawesi Selatan, mulai dari Makassar, Takalar, Maros, hingga wilayah lainnya yang kini telah bermukim di Kotabaru.


Namun, di tanah rantau, mereka tidak lagi memisahkan diri berdasarkan daerah asal. Semuanya disatukan oleh ikatan yang sama: rasa pernah meninggalkan kampung halaman dan menjalani dinamika kehidupan jauh dari tanah kelahiran.


Pada Sabtu (8/8/2026) malam, para perantau bersuku Makassar yang bermukim di Kotabaru ini berkumpul dalam suasana hangat dan cair. Tanpa sekat, mereka duduk bersama, berbincang, tertawa, dan menikmati hidangan makan malam yang telah disajikan.


Gelak tawa kerap pecah di tengah obrolan. Pertemuan ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan ruang untuk kembali merasakan kehangatan kekeluargaan yang kerap dirindukan di tanah perantauan.


Suasana semakin berkesan dengan adanya perayaan ulang tahun sederhana untuk tiga orang anggota, yaitu Daeng Asdar Daeng Nyonri, Daeng Tiro, dan Fahmi. Kebersamaan yang terjalin membuat momen tersebut terasa begitu berharga.


Makan bersama menjadi pilar utama acara. Sambil menyantap hidangan, mereka bertukar cerita tentang pengalaman hidup di Kotabaru, mengenang kampung halaman, hingga membagikan kisah perjuangan selama merantau.


Bagi seorang perantau, duduk satu meja bersama sesama warga asal daerah memiliki makna mendalam. Ada rasa rindu yang pelan-pelan terobati, kenangan masa lalu yang kembali hadir, serta keyakinan bahwa mereka tidak berjuang sendirian.


Asdar Daeng Nyonri mengaku terharu melihat soliditas yang ditunjukkan para peserta. Menurutnya, meski tidak memiliki hubungan darah, kehidupan perantauan telah merekatkan mereka layaknya keluarga sendiri.


Hal senada disampaikan Daeng Tiro. Ia menilai agenda kumpul bersama ini menjadi penawar rindu akan kampung halaman di Sulawesi Selatan di tengah padatnya aktivitas kerja sehari-hari.


Pertemuan malam itu juga memperlihatkan keberagaman profesi para perantau Makassar di Kotabaru, mulai dari ASN, pengusaha, hingga pedagang ikan. Seluruh perbedaan status sosial tersebut melebur tanpa ada batasan.


Bagi mereka, Kotabaru bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan sudah menjadi rumah kedua tempat bekerja, membangun keluarga, mendidik anak, dan berbaur dengan masyarakat lokal.


Kendati demikian, ingatan akan kampung halaman tetap tersimpan rapat. Kerinduan itu kerap terobati lewat hal-hal sederhana, seperti mendengar dialek khas, menikmati kuliner daerah, atau berkumpul bersama sesama warga perantau.


Busana putih dan kuning yang dikenakan para peserta menjadi simbol kesatuan. Di tengah kemajemukan Kotabaru, kegiatan ini membuktikan bahwa beradaptasi di tanah orang tidak harus menghilangkan akar budaya asal.


Malam kian larut, namun kehangatan belum memudar. Canda tawa dan kisah masa lalu terus mengalir mengisi setiap sudut ruangan Aula Hotel Grand Surya.


Bagi tiga peserta yang merayakan ulang tahun, momen ini menjadi karunia tersendiri karena dapat dirayakan di tengah lingkaran orang-orang yang sudah dianggap seperti keluarga.


Pada akhirnya, kebersamaan malam itu menegaskan bahwa tempat "pulang" bagi seorang perantau tidak selalu berupa rumah di kampung halaman, melainkan juga kehadiran sesama perantau yang mampu memberikan rasa hangat dan kenyamanan di tanah orang.


Reporter: Jumadil.

×
Berita Terbaru Update