![]() |
Ketua Pokdarwis Pantai Risalo, Ilham, |
KOTABARU – Nama "Risalo" diambil dari bahasa suku Mandar yang berarti "di ujung". Sebuah nama yang tidak hanya menggambarkan letak geografis pantai eksotis di bagian barat Kotabaru tersebut, tetapi juga mencerminkan gigihnya perjuangan masyarakat lokal yang berada di ujung tombak pembangunan pariwisata daerah, Minggu (24/5/26).
Keindahan Pantai Risalo yang kini mulai ramai menghiasi lini masa media sosial tidak tumbuh secara instan.
Di balik pesona terumbu karang dan hutan mangrovenya, ada keringat dan konsistensi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) serta warga sekitar yang menolak pasrah pada keadaan.
![]() |
| Pariwisata laut Kotabaru |
Ketua Pokdarwis Pantai Risalo, Ilham, mengenang kembali awal mula babak baru pantai yang dulu bernama Teluk Jagung ini.
Langkah awal penataan dimulai sejak tahun 2017. Bermodalkan semangat swadaya dan kecintaan pada tanah kelahiran, Ilham bersama segelintir warga mulai membersihkan pantai, memetakan potensi karang, dan menjaga kelestarian hutan bakau dari pembalakan.
"Kami melihat ada potensi luar biasa di sini yang kalau dikelola dengan baik bisa mengubah nasib ekonomi warga. Sejak 2017, kami perlahan bergerak bersama masyarakat, membersihkan kawasan, dan mulai memperkenalkannya ke luar," kisah Ilham.
Selama hampir sembilan tahun, Pokdarwis menjadi motor penggerak tanpa lelah. Mereka mengedukasi nelayan setempat untuk tidak merusak terumbu karang dan bersama-sama menjaga kebersihan pesisir.
Upaya sunyi ini perlahan membuahkan hasil. Lewat promosi dari mulut ke mulut yang bertransformasi digital ke media sosial, Pantai Risalo kini mulai kebanjiran pengunjung, terutama saat akhir pekan.
Geliat pariwisata ini mulai menumbuhkan warung-warung kecil milik warga dan membuka peluang kerja baru.
Namun, Ilham menegaskan perjuangan belum selesai. Mengelola wisata secara swadaya memiliki batas kemampuan finansial.
Perjuangan warga di "ujung" Kotabaru ini kini membutuhkan gandengan tangan dari pihak-pihak luar agar impian mereka melihat Risalo menjadi destinasi internasional bisa terwujud tanpa kehilangan ruh kearifan lokalnya.
Repoter: Jumadil.
Upload: Tim

