![]() |
| Event Hari Tari Dunia |
KOTABARU – Ikon wisata Siring Laut Kotabaru mendadak kian magis pada Sabtu (25/4) malam. Di bawah pendar lampu panggung akrab dan semilir angin laut, puluhan penari tumpah ruah memeriahkan Hari Tari Sedunia.
Event bertajuk "Mausung Budaya, Batari Sabanua" garapan Disdikbud Kotabaru ini sukses menjadi magnet bagi wisatawan yang sedang bersantai di pusat kuliner dan wisata tersebut.
Bukan sekadar seremonial, gelaran ini menjadi tontonan segar bagi pengunjung. Sebanyak 37 peserta dari berbagai tingkatan mulai dari pelajar SD hingga SMA dan sanggar seni bergantian naik panggung.
Mereka menyuguhkan harmoni tari tradisional Banjar hingga tari kreasi yang memukau mata para pelancong.
Bupati Kotabaru melalui Asisten Pemerintahan dan Kesra, Minggu Basuki, menegaskan bahwa pemilihan Siring Laut sebagai lokasi acara bukan tanpa alasan. Tempat ini adalah wajah Kotabaru, di mana budaya dan pariwisata bisa bertemu dalam satu napas.
"Kegiatan ini bentuk nyata komitmen kita melestarikan identitas daerah. Lewat panggung di objek wisata seperti ini, kita tidak hanya menampilkan keindahan seni, tapi juga memperkuat cinta budaya lokal di tengah modernisasi," ungkap Minggu Basuki.
Antusiasme penonton terlihat jelas. Wisatawan yang awalnya hanya berniat menikmati kuliner khas Kotabaru, justru tertahan dan memadati area panggung untuk menyaksikan kelincahan gerak para penari.
Kepala Disdikbud Kotabaru, Akhmad Romansyah, mengaku gembira dengan suksesnya acara yang baru pertama kali digelar ini. Ia melihat adanya potensi besar jika seni tari rutin ditampilkan di titik-titik wisata.
"Ini langkah awal kita. Secara tidak langsung, pagelaran ini membantu menjaga warisan leluhur agar tetap hidup. Harapannya, ke depan kolaborasi dengan sanggar-sanggar seni bisa lebih intens agar Siring Laut makin meriah dengan sajian budaya," ujar Romansyah optimistis.
Dengan suksesnya acara ini, Pemkab Kotabaru memberikan sinyal kuat bahwa sektor pariwisata akan terus "didandani" dengan muatan lokal.
Bagi para pengunjung, malam itu menjadi bukti bahwa berkunjung ke Kotabaru bukan hanya soal memanjakan mata dengan pemandangan laut, tapi juga menyelami kekayaan tradisi yang masih terjaga rapi.
Reporter: Jumadil.
