![]() |
| Gambar dihasilkan (AI) |
KOTABARU- Bagi siapa pun yang hendak bertandang ke "Bumi Sa-Ijaan", perjalanan sesungguhnya dimulai tepat saat ban kendaraan menyentuh aspal dermaga Feri Tanjung Serdang, Kamis (30/4/26).
Lepas dari dek kapal Fery yang membelah Selat Laut, sebuah petualangan visual sepanjang kurang lebih 45 kilometer membentang, menuntun setiap pelancong menuju titik nol pesona Kotabaru, Siring Laut..
Perjalanan dari Tanjung Serdang menuju pusat kota bukan sekadar perpindahan kilometer. Ia adalah sebuah transisi dari ketenangan pesisir menuju denyut nadi kabupaten yang sedang bersolek.
Keluar dari area pelabuhan, mata akan langsung dimanjakan oleh koridor hijau. Jalanan berkelok yang membelah perbukitan Pulau Laut menawarkan udara yang masih bersih dari polusi.
Di sisi kiri dan kanan, deretan pohon kelapa dan hutan sekunder seolah menjadi pagar alam yang menyambut ramah.
Sesekali, kendaraan akan melintasi perkampungan warga yang tenang, di mana aroma khas laut mulai samar-samar tercium saat jalanan mendekati bibir pantai. Inilah rute yang menenangkan, sebuah "pemanasan" sebelum kita tiba di keramaian yang tertata.
Mendekati area kota, atmosfer mulai berubah. Aspal yang mulus membawa kita melewati kawasan perkantoran dengan arsitektur khas sebelum akhirnya pandangan akan tertuju pada satu titik yang tak mungkin terlewatkan.
Sepasang replika Ikan Todak yang melompat tinggi menjadi penanda kuat bahwa wisatawan telah sampai di Siring Laut.
Jika wisatawan tiba di sore hari, transisi cahaya dari kuning keemasan menuju jingga di ufuk barat adalah momen paling mahal.
Siring Laut bukan sekadar ruang terbuka publik, ia adalah panggung akrab di mana daratan dan laut beradu dalam harmoni.
Turun dari kendaraan di area parkir yang luas, pengunjung akan langsung disambut oleh hembusan angin laut yang sejuk.
Siring Laut kini tampil lebih modern namun tetap menjaga jiwa lokalnya. Trotoar yang lebar, taman yang tertata rapi, hingga panggung kesenian yang seringkali mementaskan tarian tradisional seperti pada gelaran Hari Tari Dunia lalu menjadikannya pusat gravitasi bagi siapa saja.
Bagi pencinta kuliner, aroma ikan bakar dan jagung manis mulai menggoda selera. Menikmati santapan di tepi laut sembari memandang kapal-kapal nelayan dan lampu-lampu kapal di kejauhan adalah pengalaman yang sulit dicari tandingannya.
Menempuh rute dari Tanjung Serdang menuju Siring Laut adalah tentang menikmati proses. Ia mengajarkan kita bahwa untuk menikmati kemegahan sebuah ikon wisata, kita perlu melewati tenangnya alam Pulau Laut terlebih dahulu.
Siring Laut kini bukan lagi sekadar tempat singgah. Ia telah menjelma menjadi simbol kebanggaan, tempat dimana wisatawan lokal maupun mancanegara bisa merasakan keramahan khas masyarakat Kotabaru dalam satu tarikan napas laut yang menyegarkan.
Reporter: Jumadil.
