![]() |
| Momen foto bersama |
KOTABARU- Siluet Masjid Apung Siring Laut sore itu tampak lebih syahdu dari biasanya, Sabtu (7/3). Di balik kemegahan arsitekturnya yang menjorok ke laut, tersimpan hangatnya sebuah pertemuan.
Bukan kontes kecantikan atau adu bakat seni, melainkan momen saat para pemuda yang tergabung dalam Ikatan Duta Wisata dan Budaya Saijaan (IDWBS) Kotabaru memilih untuk "turun takhta" dan berbagi kasih.
Tahun ini, mereka kembali dengan tajuk yang puitis yaitu “Lentera”. Sebuah akronim dari Lengkapi Kebersamaan, Terangi Hati dengan Cinta dan Keberkahan.
Memasuki tahun ketujuh pelaksanaannya, Gebyar Ramadan ini seolah telah menjadi agenda wajib bagi para duta daerah tersebut untuk membuktikan bahwa mahkota yang mereka sandang bukan sekadar hiasan, melainkan tanggung jawab sosial.
Sebanyak 100 tamu undangan memenuhi aula masjid. Mereka adalah wajah-wajah polos dari empat sekolah dasar di Kotabaru, para anak yatim, dan kaum dhuafa yang sore itu menjadi "raja" di jamuan berbuka puasa.
Tak ada sekat antara sang duta wisata yang rapi dengan anak-anak kecil yang malu-malu menerima paket sembako, alat tulis, hingga santunan uang tunai.
Keberhasilan acara ini bukan datang dari langit. Ada keringat dan semangat yang dikucurkan IDWBS melalui aksi penggalangan dana di jalanan dan berbagai lapisan masyarakat.
Hasilnya luar biasa,,dana sebesar Rp27.659.000 berhasil dihimpun. Angka yang menjadi bukti bahwa kepedulian warga Bumi Saijaan masih sedalam lautan yang mengelilingi kabupaten ini.
Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kotabaru pun tak kuasa menahan apresiasinya.
Di hadapan para pemuda itu, ia menitipkan pesan agar api kebaikan ini tak boleh padam.
"Kegiatan ini punya nilai positif dan penuh manfaat. Ini adalah cara terbaik menanamkan nilai kepedulian sekaligus memberi teladan bahwa berbagi itu indah," ungkapnya saat memberikan sambutan.
Bagi IDWBS, Gebyar Ramadan bukan sekadar seremoni bagi-bagi amplop. Ini adalah upaya menghadirkan cahaya kebaikan yang mempererat kebersamaan.
Lewat "Lentera" 2026, mereka ingin mengingatkan bahwa di tengah gemerlap promosi wisata daerah, masih ada tangan-tangan kecil yang butuh digandeng untuk berjalan bersama.
Sore itu, saat azan Magrib berkumandang di tepian Siring Laut, bukan hanya perut yang terisi saat berbuka, tapi juga hati yang terang benderang oleh hangatnya kepedulian.
Sebuah bukti bahwa pemuda Kotabaru tidak hanya pandai mempromosikan budaya, tapi juga fasih dalam mempraktikkan ajaran kemanusiaan.
Repoter: Jumadil.
