![]() |
| Disambut positif oleh siswa dan orang tua (ilustrasi: Dola AI) |
Amuntai – Sejak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dilaksanakan di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), berbagai tanggapan positif bermunculan dari kalangan siswa, orang tua, hingga tenaga pendidik sebagai penerima manfaat.
Nayla Azzahra, siswi kelas VIII MTsN 2 Amuntai, mengaku senang dengan adanya program tersebut. Ia menilai MBG memberi banyak dampak positif, selain membantu pemenuhan gizi juga membuat siswa lebih hemat karena dapat menabung uang jajan.
“Dengan MBG kami bisa makan bersama teman-teman di kelas. Selain menambah asupan gizi, kami juga jadi lebih hemat,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Lina, orang tua siswa MTsN 2 Amuntai. Ia menilai kebutuhan makan siang anaknya kini lebih terjamin sejak adanya MBG. Program tersebut juga dinilai membantu orang tua dalam memastikan anak memperoleh makanan sehat setiap hari.
“Alhamdulillah di sekolah anak saya aman. Justru bagus karena anak-anak makan siang dengan menu yang lebih sehat,” katanya.
Menurut Lina, kehadiran MBG meringankan beban orang tua yang sebelumnya harus menyiapkan bekal setiap hari. Anak pun kini jarang jajan di luar sekolah karena sudah mendapatkan makan siang dari program tersebut.
“Sekarang jauh lebih terbantu. Anak juga jadi jarang jajan di luar karena sudah fokus makan siang dari sekolah,” tambahnya.
Dari sisi kesehatan, Lina menyebut kondisi anaknya tetap baik. Ia menilai menu yang disajikan sudah mengarah pada konsep gizi seimbang. Meski demikian, ia berharap kualitas dan variasi menu MBG terus ditingkatkan.
Tanggapan positif juga datang dari Bella Kusuma Ningrum, guru SMKN 3 Amuntai. Ia menyebut pelaksanaan MBG di sekolahnya berjalan relatif lancar dan sangat membantu, terutama bagi orang tua siswa dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.
“Program ini sangat membantu orang tua karena dapat mengurangi biaya sarapan dan makan siang. Mayoritas siswa kami berasal dari keluarga menengah ke bawah,” jelasnya.
Menurut Bella, menu MBG yang disediakan cukup bergizi dan bervariasi, meliputi nasi dengan lauk berprotein seperti telur dan ayam, sayuran, susu, serta buah. Jika makanan tidak habis, siswa diperbolehkan membawa pulang dengan wadah masing-masing.
Ia juga mencontohkan respons cepat penyedia makanan terhadap kebutuhan siswa. “Ada siswa yang tidak suka nasi, lalu dilaporkan kepada kami. Keesokan harinya langsung diganti dengan kentang,” ujarnya.
Bella berharap program MBG dapat terus berlanjut sebagai upaya mendukung pemenuhan gizi dan menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas. (**)
Sumber: IPN/Ril
Upload: Tim
