Biadap ! Seorang Siswi Digilir Dua Temannya Di Kebun Kelapa

IPN – Kandangan. Nasib Melati (nama samaran) 15 tahun ,seorang pelajar SMP Kandangan benar-benar malang, dua orang temannya tega menggilir Melati  saat jalan-jalan dimalam hari di area kebun kelapa. Adapun pelaku adalah Maulidi Rahman (24) dan AD (17). Kedua pelaku merupakan warga Kelurahan Kandangan Barat, Kabupaten HSS.


Kasus pemerkosaan yang dilakukan  Rabu (10/10/2018) lalu ini terbongkar setelah Melati  menceritakan semua perbuatan yang dialaminya kepada orangnya Selasa, (30/10/2018) malam. 

Tak terima perbuatan yang dilakukan pelaku, ayah Melati langsung melaporkan kejadiannya ke Polres HSS. Usai menerima laporan polisi langsung bergerak. Rabu (31/10/2018) tengah malam sekitar pukul 23.00 Wita, kedua pelaku diringkus di rumah mereka masing-masing.

Kapolres HSS Ajun Komisaris Besar Polisi Rahmat Budi Handoko melalui Kepala Satuan Reserse Kriminal Ajun Komisaris Polisi Susilo membenarkan jajarannya meringkus dua orang pemuda yang melakukan pemerkosaan.

“Hasil pemeriksaan pelaku memang sudah ada niat melakukan pemerkosaan,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, kedua tersangka saat ini sudah dijebloskan di rutan Polres HSS. “Kedua tersangka kami jerat Pasal 81 ayat 1 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dengan ancaman 15 tahun penjara,” tegas Susilo.


Berikut kronologi kejadian dikutip dari  Prokalsel

Awalnya, Melati diajak jalan-jalan oleh AD yang merupakan teman satu sekolahnya, Rabu (10/10) malam sekitar pukul 19.30 Wita. Namun, setelah mereka bertemu, Melati  bukannya dibawa jalan-jalan ke tempat nongkrong malah dibawa ke kebun kelapa di kawasan Jalan Banyu Barau, Kelurahan Kandangan.

Sampai di kebun, korban sempat mengajak pergi karena sepi. Tapi, AD tidak mau dan menyuruh menunggu karena pelaku Maulidi akan datang.

Maulidi yang datang kemudian  minum-minuman beralkhohol di hadapan korban. Diduga mabuk, pelaku mulai mencium dan meraba korban. Korban pun sempat berontak.

Namun, usaha berontak korban seketika menjadi ketakutan karena salah satu pelaku mengancam dengan senjata tajam (sajam). Melati  sempat berteriak  tapi dua pelaku yang sudah gelap mata itu tak mengindahkan.

Bejatnya lagi, setelah melakukan pemerkosaan di kebun kelapa tersebut, mereka  membawa korban ke rumah salah satu pelaku. Di rumah itu, Melati  kembali dipaksa melayani mereka.


Belajar dari kasus Melati , hendaknya para orang tua  harus lebih ekstra perhatian terhadap anak perempuannya terlebih jika bepergian dengan lawan jenis sebaiknya dilarang.


Subscribe to receive free email updates: