**)
![]() |
| Aksi mahasiswa di Kantor DPRD HSU |
Amuntai – Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) menggelar aksi penyampaian aspirasi di depan Kantor DPRD Kabupaten HSU, Senin (7/9/2026). Aksi tersebut mengangkat sejumlah persoalan yang tengah menjadi perhatian masyarakat, khususnya dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta ketersediaan dan harga bahan bakar minyak (BBM).
Aksi diawali dengan titik kumpul di Masjid Agung At-Taqwa sekitar pukul 09.00 WITA. Massa kemudian bergerak menuju titik aksi dan tiba di depan Kantor DPRD Kabupaten HSU sekitar pukul 10.00 WITA.
Dengan membawa sejumlah aspirasi, massa menyuarakan tema Asap Menutup Langit, BBM Harga Selangit, Rakyat Menjerit sebagai bentuk keresahan terhadap kondisi yang dirasakan masyarakat.
Dalam penyampaiannya, mahasiswa menyoroti dampak karhutla yang menimbulkan kabut asap dan berpengaruh terhadap aktivitas masyarakat, termasuk sektor pendidikan dan kesehatan. Mereka juga menyoroti persoalan pemerataan BBM yang dinilai masih menjadi kendala, ditandai dengan panjangnya antrean di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar.
Mahasiswa berharap Pemerintah Daerah bersama DPRD Kabupaten HSU dapat mengambil langkah konkret, baik dalam penanganan karhutla maupun dalam menjaga ketersediaan serta kestabilan harga BBM di tingkat pengecer.
Bupati HSU yang saat itu sedang menghadiri kegiatan pelantikan Bunda PAUD di Aula Idham Chalid turut ditunggu massa aksi untuk memberikan tanggapan terhadap aspirasi yang disampaikan.
Bupati HSU H. Sahrujani, bersama Wakil Bupati Hero Setiawan, pimpinan dan anggota DPRD HSU, serta jajaran Polres HSU kemudian hadir di lokasi aksi dan duduk bersama di jalan raya untuk mendengarkan serta menanggapi aspirasi mahasiswa.
Dalam tanggapannya, disampaikan bahwa Pemerintah Daerah telah melakukan berbagai upaya dalam menangani titik-titik karhutla yang berada di wilayah Kabupaten HSU. Upaya pencegahan dan penanganan juga terus didorong bersama DPRD.
Ketua DPRD HSU H. Fadilah, SM menyampaikan bahwa DPRD turut mendorong langkah-langkah penanganan terhadap persoalan karhutla yang terjadi di daerah.
Sementara itu, mahasiswa menekankan bahwa jumlah kejadian karhutla yang menurut mereka mencapai 98 kejadia tidak dapat dipandang sebagai persoalan kecil. Mereka meminta agar kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Selain persoalan karhutla, mahasiswa juga mempertanyakan aspek kesehatan masyarakat akibat kabut asap. Mereka meminta adanya transparansi mengenai kondisi penyakit yang berpotensi meningkat, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, serta iritasi mata dan tenggorokan.
Mahasiswa juga menanyakan perlindungan bagi para relawan maupun masyarakat yang turut turun ke lapangan dalam penanganan karhutla, termasuk sejauh mana sosialisasi mengenai pencegahan dan penanganan gangguan kesehatan akibat paparan asap telah dilakukan.
Menanggapi hal tersebut, Bupati H. Sahrujani menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten HSU telah melakukan upaya pembagian masker, termasuk ke sekolah-sekolah dan kepada masyarakat secara umum.
“Jika upaya tersebut dirasa masih kurang, segala saran dan masukan yang bagus akan kami terima dan kita lakukan. Tanggung jawab ini tentu tanggung jawab kita bersama, yaitu ingin melakukan hal terbaik untuk masyarakat HSU,” ujar Bupati.
Bupati juga menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak menginginkan persoalan kabut asap akibat karhutla terus berulang setiap tahun. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan kerja sama seluruh pihak.
“Kita akan bersama-sama terkait hal ini. Kami juga tidak mau berulang setiap tahunnya. Namun harus dimaklumi terkait hal ini juga karena ada paparan dari daerah lain,” jelasnya.
Terkait persoalan BBM, Bupati menyampaikan bahwa Pemerintah Daerah bersama DPRD Kabupaten HSU akan berkoordinasi dengan BPH Migas untuk meminta penambahan kuota BBM bagi daerah.
Sementara itu, Wakil Bupati HSU Hero Setiawan menyampaikan bahwa ke depan pemerintah daerah akan memperkuat mitigasi bencana secara menyeluruh, mulai dari tahap pra-bencana, penanggulangan saat bencana, hingga pascabencana.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari perencanaan pembangunan daerah yang tertuang dalam RPJMD, sehingga penanganan bencana, termasuk karhutla, diharapkan dapat dilakukan secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Aksi kemudian menjadi ruang dialog antara mahasiswa, masyarakat, pemerintah daerah, DPRD, dan unsur terkait. Pemerintah daerah dan DPRD menyatakan akan menindaklanjuti berbagai masukan yang disampaikan, terutama menyangkut penanganan karhutla, dampak kesehatan akibat kabut asap, serta ketersediaan dan distribusi BBM di Kabupaten HSU. (**)
Sumber: Humas DPRD HSU
Upload: Tim






