![]() |
| Potensi pertanian HSU |
Amuntai — Bupati Hulu Sungai Utara (HSU) H. Sahrujani, diwakilkan ke Wakil Bupati HSU Hero Setiawan melakukan kunjungan ke tiga lokasi pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian Sistem Integrasi Peternakan, Perikanan dan Pertanian Kabupaten HSU, yakni BPP Amuntai Tengah, BPP Sungai Pandan, dan Bapperida Kabupaten HSU.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Pemkab HSU dalam memperkuat konsep sistem pertanian terintegrasi (integrated farming system) sebagai salah satu program unggulan daerah untuk mendukung terwujudnya HSU sebagai kawasan Agro-Minapolitan dan penopang logistik Kalimantan Selatan.
Dalam kunjungannya di BPP Amuntai Tengah, Wakil Bupati Hero Setiawan menyampaikan bahwa dirinya mendapat tugas dari Bupati HSU untuk mengawal pelaksanaan kegiatan tersebut, termasuk memastikan hasil kajian dan FGD dapat menjadi dasar dalam menentukan program yang benar-benar potensial untuk dikembangkan dan didukung pemerintah daerah.
“Ulun diminta Pak Bupati untuk mengawal kegiatan ini. Setelah kita melihat dan mengkaji secara mendalam melalui survei dan FGD, nanti akan terlihat kegiatan mana yang memungkinkan untuk kita support atau kita kembangkan lagi,” ujarnya.
Hero menjelaskan, konsep sistem pertanian terintegrasi menekankan pemanfaatan seluruh potensi yang ada sehingga tidak ada hasil samping atau limbah kegiatan pertanian yang terbuang percuma.
Menurutnya, konsep tersebut sejalan dengan salah satu program unggulan Pemkab HSU, yakni Si Tani (Sistem Pertanian Terintegrasi).
Program ini diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah sektor pertanian sekaligus berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
“Konsep yang paling jelas adalah jangan sampai dari kegiatan pertanian kita ada yang sia-sia. Tidak ada limbah, tetapi semuanya bisa dimanfaatkan dan saling terhubung.
Ujung-ujungnya bagaimana petani kita yang mayoritas masyarakat HSU ini bisa meningkat taraf hidupnya,” jelasnya.
Sementara saat berada di BPP Sungai Pandan, Hero menegaskan bahwa integrasi pertanian, perikanan dan peternakan merupakan upaya menggabungkan berbagai potensi yang selama ini telah berjalan di masyarakat agar menghasilkan sistem produksi yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Ia juga menyampaikan bahwa Kabupaten HSU memiliki potensi besar untuk mengembangkan konsep tersebut.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, produktivitas padi HSU pada tahun 2025 tercatat sebagai yang tertinggi di Kalimantan Selatan.
“Alhamdulillah, ini menjadi modal besar. Cita-cita Pak Bupati untuk meningkatkan kesejahteraan petani sangat mungkin kita laksanakan di sini,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati juga meninjau tanaman percobaan sembilan varietas padi yang dikembangkan melalui kerja sama Pemkab HSU dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Salah satu varietas yang menjadi perhatian memiliki umur panen sekitar 65 hari atau dua bulan lima hari.
Menurut Hero, hasil uji coba tersebut berpotensi mendukung peningkatan Indeks Pertanaman (IP) di Kabupaten HSU, dari sebelumnya dua kali tanam menjadi tiga kali tanam atau IP 300.
“Ini sangat potensial untuk meningkatkan indeks pertanaman di Kabupaten Hulu Sungai Utara, dari yang sebelumnya IP 200 menjadi IP 300,” ungkapnya.
Hero juga mengapresiasi dukungan BRIN, para penyuluh pertanian lapangan (PPL), serta para petani di wilayah bawah yang meliputi Kecamatan Sungai Pandan, Babirik, Danau Panggang, Paminggir dan Sungai Tabukan.
Ia berharap hasil FGD dan pengembangan varietas padi tersebut dapat menjadi bagian dari gerakan besar untuk meningkatkan produktivitas pertanian HSU.
Dengan produktivitas padi yang saat ini berada pada kisaran 6–10 ton per hektare, pengembangan teknologi, varietas unggul dan sistem pertanian terintegrasi diharapkan mampu mendorong peningkatan produksi sekaligus memperkuat posisi HSU sebagai salah satu daerah penyangga pangan dan logistik di Kalimantan Selatan.
“Mudah-mudahan ini menjadi satu gerakan yang bombastis. Kita akan terus meningkatkan produktivitas dan produksi padi per hektare,” pungkasnya.
PROKOPIM HSU/IPN
