Notification

×

Iklan

Iklan

Disparpora Kotabaru Ingin Budaya Banjar Tak Berhenti di Panggung Festival

Friday, September 18, 2026 | 18 September WIB Last Updated 2026-09-18T00:42:39Z


Lestarikan budaya Banjar

KOTABARU – Budaya biasanya mendapat perhatian ketika panggung festival dibuka. Setelah acara selesai, perhatian itu perlahan surut. . 


Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Kotabaru ingin pola tersebut berubah.


Budaya Banjar didorong hadir dalam aktivitas sehari-hari. Salah satu caranya dengan mewajibkan pegawai mengenakan laung Saijaan bagi laki-laki dan syal Saijaan bagi perempuan setiap Rabu dan Kamis.


Kebijakan tersebut mulai diberlakukan 2 September 2026 melalui Surat Edaran Nomor 000.1.12/1303/SEKR.DISPARPORA.


Kepala Bidang Pertunjukan dan Ekonomi Kreatif Disparpora Kotabaru, H Rudi Nugraha, mengatakan pelestarian budaya tidak semestinya hanya mengandalkan festival maupun pertunjukan. 


“Sudah saatnya Kabupaten Kotabaru bersama-sama mengangkat budaya yang selama ini terabaikan,” kata Rudi, Senin (7/9).



Menurut dia, lingkungan pemerintahan dapat menjadi salah satu ruang untuk membuat simbol budaya tetap terlihat.


Laung atau lawung Banjar, misalnya, tidak hanya dipandang sebagai penutup kepala. Atribut tersebut merupakan bagian dari busana tradisional masyarakat Banjar.


Ketika dikenakan pegawai, laung menjadi bagian dari keseharian. Masyarakat yang datang ke kantor pun dapat melihat langsung simbol budaya tersebut tanpa harus menunggu sebuah festival digelar.


Hal serupa diterapkan melalui syal Saijaan bagi pegawai perempuan.


Disparpora berharap cara sederhana itu dapat menumbuhkan kesadaran, terutama di kalangan generasi muda, mengenai pentingnya menjaga warisan budaya.


“Pelestarian lawung dan syal Banjar diharapkan dapat meningkatkan kesadaran generasi muda untuk mencintai serta menjaga warisan budaya daerah,” ujar Rudi.


Bagi Kotabaru, budaya juga berkaitan dengan pariwisata. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat alam, tetapi juga mencari cerita, tradisi, kesenian dan karakter masyarakat daerah yang dikunjungi.


Karena itu, Disparpora ingin identitas budaya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.


“Identitas ini harapan kami tidak hanya tampil ketika festival dimulai, lalu kembali menghilang setelah panggung dibongkar,” tutupnya.


Reporter: Jumadil.

Upload: Tim

×
Berita Terbaru Update