![]() |
| Apresiasi sadar pada narasumber |
AMUNTAI – Taruna Merah Putih (TMP) Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) menggelar Soekarno Talk In di Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai, Sabtu (26/7). Kegiatan ini menjadi ruang diskusi publik bagi generasi muda untuk mengkaji jejak kepemimpinan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dari perspektif nasionalisme dan religiusitas.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari refleksi 30 tahun peristiwa Kudatuli (Kerusuhan 27 Juli 1996). Diskusi menghadirkan tiga narasumber yang mewakili lintas generasi, yakni Generasi X, Milenial, dan Generasi Z.
Ketua pelaksana, Mufradatul Riadhah, S.IP., mengatakan Soekarno Talk In bertujuan mengajak generasi muda memahami sejarah bangsa sekaligus mengambil nilai-nilai kepemimpinan yang masih relevan hingga saat ini.
"Melalui diskusi ini, kami ingin menghadirkan perspektif dari berbagai generasi mengenai kepemimpinan Bung Karno, sehingga menjadi inspirasi bagi Gen Z dalam menghadapi tantangan zaman," ujarnya.
Narasumber dari Generasi X, Dr. Hj. Nahdiyatul Husna, S.Pd.I., M.M., memaparkan bahwa Soekarno merupakan sosok pemimpin yang memadukan nasionalisme, kharisma, kemampuan komunikasi, dan semangat persatuan bangsa. Menurutnya, Soekarno dikenal sebagai pemimpin visioner yang mampu membangkitkan nasionalisme, memiliki diplomasi internasional yang kuat, serta berhasil menyatukan rakyat pada masa perjuangan kemerdekaan.
Sementara itu, Ahmad Sayuti, S.Pd.I., M.M., yang mewakili Generasi Milenial, menyoroti sisi religius Soekarno. Ia menilai Bung Karno menghargai nilai-nilai agama dan mengintegrasikannya dalam kehidupan bernegara sebagai landasan moral bagi kehidupan berbangsa.
Adapun Mufradatul Riadhah yang mewakili Generasi Z menekankan kemampuan diplomasi Soekarno di kancah internasional. Menurutnya, melalui kepemimpinan yang karismatik, komunikasi yang kuat, serta visi politik yang luas, Soekarno mampu menempatkan Indonesia sebagai negara yang diperhitungkan dunia meski baru merdeka.
Ia juga menyinggung peran Soekarno sebagai penggagas Konferensi Asia-Afrika (KAA) dan salah satu pelopor Gerakan Non-Blok yang menunjukkan kepiawaiannya membangun hubungan dengan para pemimpin dunia.
Pembina TMP Kabupaten HSU, Dr. H. Teddy Suryana, mengatakan diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai isu kebangsaan yang turut dibahas peserta.
"Generasi muda harus terus menggali sejarah perjalanan bangsa. Nilai nasionalisme dan patriotisme harus terus dipupuk agar Indonesia tetap maju, kuat, dan masyarakatnya semakin sejahtera," tegasnya.
Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran sejarah sekaligus memperkuat semangat kebangsaan di kalangan generasi muda sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.
Sumber: IPN
Penulis: Lis
Upload: Tim


