![]() |
| Wawancara |
Festival Budaya Saijaan bukan sekadar kemeriahan tahunan yang menumpuk di kalender pariwisata. Di balik riuh atraksi dan warna-warni kostumnya, ada jalinan riwayat, identitas, serta detak jantung masyarakat Kotabaru yang terus dipertahankan agar tak legam tergerus masa.
KOTABARU – Hembusan angin laut yang mengusap pesisir Kotabaru selalu membawa aroma cerita lama: tentang keberagaman, keharmonisan, dan tradisi leluhur yang berdampingan dengan gelombang zaman.
Di tanah berjuluk Bumi Saijaan ini, kebudayaan bukanlah artefak kaku yang dipajang di etalase museum, melainkan napas hidup yang terus mengalir dalam keseharian masyarakatnya.
Kesadaran itulah yang menegaskan betapa krusialnya keberadaan Festival Budaya Saijaan (FBS). Bagi Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kotabaru, Awaludin, helatan budaya tahunan ini adalah benteng pertahanan identitas daerah.
“Budaya adalah identitas. Festival Budaya Saijaan lahir dari sejarah, nilai, dan karakter masyarakat Kotabaru yang beragam. Identitas itu harus terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman,” ujar Awaludin dengan nada optimistis.
Magic From The Sea: Dari Pesisir Menyapa Dunia
Tahun ini, FBS mengusung narasi yang memikat: “Magic From The Sea – Merajut Budaya, Menyapa Dunia.”
Tema tersebut bukan sekadar jargon di atas baliho. Ada semangat besar untuk menegaskan posisi Kotabaru sebagai wilayah pesisir yang kaya akan warisan bahari.
Menurut Awaludin, kearifan lokal Kotabaru tidak boleh berhenti sebagai konsumsi domestik belaka, melainkan harus mengepakkan sayap menjadi daya tarik pariwisata berkelas nasional hingga internasional.
“Melalui festival ini kita menjaga akar budaya, sekaligus membuka diri kepada dunia.
Budaya Kotabaru harus menjadi kebanggaan masyarakat,” tegas Awaludin.
Perbedaan suku dan latar belakang yang merajut Kotabaru justru menjadi harmoni unik. Di panggung FBS, sekat-sekat itu meluruh, berganti menjadi energi perekat persaudaraan di tengah heterogenitas Bumi Saijaan.
Di balik panggung megah dan riuk tepuk tangan penonton, keberlangsungan seni dan budaya membutuhkan pondasi yang kokoh. Awaludin memastikan, DPRD Kotabaru berdiri di barisan terdepan untuk menjaga nyala api kebudayaan ini melalui fungsi penganggaran, legislasi, dan pengawasan.
Namun, dukungan regulasi dan anggaran saja tidak cukup jika generasi muda enggan menengok akarnya sendiri. Di akhir perbincangan, Awaludin melontarkan pesan mendalam yang ditujukan khusus bagi para pemuda Kotabaru.
“Jangan malu mencintai budaya sendiri. Kenali, pelajari, dan lestarikan,” tegas Awaludin mengingatkan.
Sebab baginya, budaya adalah warisan identitas. Menjaga tradisi berarti menjaga jati diri bangsa agar tidak asing di tanahnya sendiri.
Reporter: Jumadil.

