![]() |
| Kegiatan |
KOTABARU- Di sebuah ruang kelas di SMP Negeri 3 Sungai Durian, Desa Buluh Kuning, belasan pengurus koperasi berkumpul bukan untuk rapat anggota tahunan yang pelik.
Selama dua hari, 10 sampai 11 Februari 2026, mereka bergulat dengan angka, skema perpajakan, dan rancangan proposal usaha yang selama ini kerap menjadi titik lemah kelembagaan di desa.
Pelatihan Pembukuan dan Perpajakan ini diinisiasi oleh PT Pelsart Tambang Kencana (PT PTK).
Sasarannya spesifik, enam koperasi dan perangkat desa di wilayah Ring 1 operasional perusahaan. Sebut saja Koperasi Niaga Jaya Bersama Mandiri hingga Koperasi Desa Merah Putih dari tiga desa berbeda Gendang Timburu, Buluh Kuning, dan Batuah.
Persoalan klasik koperasi desa biasanya bermuara pada tata kelola yang serampangan. Tanpa administrasi yang akuntabel, koperasi seringkali sulit berkembang, apalagi menjalin kemitraan formal.
“Pembukuan yang tertib dan kepatuhan pajak bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan fondasi keberlanjutan,” ujar Rohadi Nursetyawibawa dari Balai Pelatihan Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Kalimantan Selatan.
Menurutnya, tanpa transparansi, kepercayaan anggota yang merupakan nyawa koperasi akan pelan-pelan terkikis.
Novi, perwakilan Koperasi Desa Merah Putih Gendang Timburu, merasakan urgensi tersebut.
Baginya, materi yang disampaikan para narasumber dari Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kotabaru sangatlah aplikatif.
“Kami jadi lebih paham cara menyusun pembukuan yang benar dan memenuhi kewajiban pajak,” katanya.
Langkah PT PTK menggembleng 15 peserta ini merupakan bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Pilar Kelembagaan 2026. Fokusnya jelas, penguatan ekonomi desa melalui sumber daya manusia yang mumpuni.
Arbani, perwakilan Pemerintah Desa Buluh Kuning, menilai langkah ini krusial. Baginya, peningkatan kapasitas pengurus adalah satu-satunya cara agar koperasi desa bisa menjadi mesin penggerak ekonomi masyarakat yang mandiri.
Dengan pengelolaan yang lebih profesional, koperasi di lingkar tambang ini diharapkan tak lagi sekadar menjadi pajangan administratif, melainkan tumbuh menjadi entitas bisnis yang sehat dan berkelanjutan di masa depan.
Reporter: Jumadil.
