-->

Proses Pengajaran di Tengah Pandemi Covid -19

Oleh H. Ahdiat Gazali Rahman.
Pemerhati dan Pendidik 
Tinggal di Amuntai


Sejak mewabahnya virus Corona keselurh negeri ini , tepat sejak bulan Maret 2020, hingga saat ini, keadaan belum begitu stabil, berakibat dalam peroses pendidikan dan pengajaran, mengelami perubahan yang sangat derastis.

Bila tahun-tahun sebelumnya pendidikan diberbagai tingkat selalu diakhiri dengan adanya Ujian Nasional (UN),Untuk mengukur keberhasilan siswa secara nasional.

Namun karena bulan April hingga Mei biasa dilakukan UN, belum begitu aman, dari penyebaran Covid 19, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan walaupun mungkin di anggap tergese-gesa oleh sebagian orang, beliau meniadakan UN. Semua orang berharap agar penyebaran Covid 19 ini bisa cepat berakhir.

Namun dari waktu kewaktu ternyata covid 19 belum menurun bahkan, seakan selalu bertambah. Pemerintah ternyata tidak memberikan toleransi yang cukup dengan menunda Penerimaan Peserta Didik Baru  melalui PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) hingga covid ini berakhir, tentu dengan menunda dan mengubah tahun ajaran baru, jika selama ini dari juli ke Juni, beralih menjadi Januari Ke Desember.

Seperti sebelum tahun 1979, menuruti tahun anggaran, akan terjadi kekompakan antara tahun anggaran dan tahun ajaran, namun harapan ini tinggal harapan, cara penundaan PPDB ini tak pilih oleh Mentri kita, mungkin juga beliau belum pernah mengelami sebelumnya (ketika itu terjadi tahun 1979), dengan berbagai aturan beliau mengamanatkan pengajaran harus tetap berjalan di seluruh daerah diwilayah Inodnesia, namun harus memperhatikan kondisi daerah masing-masing, yang katagorekan dengan Zona hijau, kuning, oranye dan merah. Ternyata menurut data pada tahun ajaran yang lewta hanya ada 6 % dinegeri ini pendidikan yang berada dizona hijau, dan diperbolehkan belajar di sekolah, sedangkan sisanya 94 % mereka berada dizona kuning, orenye dan merah , harus belajar dirumah.

Proses belajar dirumah tak bisa dilakukan sebagaimana biasa , tapi memerlukan alat lain, sumber lain, bahkan pendekata lain, bahkan peran orang lain, jika sebelumnya guru sebagai pengajar langsung berhubungan langsung dengan siswa, namun dizona ini guru diberikan kebebasan memelih cara dan metode yang dilakukan ,tentu sesuai tingkat satuan pendidikan yang diempunya, untuk tingkat SLTA misalnya dengan meng gunakan Daring, hal ini tentu memperhatikan ketersedian teknologogi dan sarana lain seperti jaringan koneksi yang ada dilembaga pendidikan dan kawasan dimana peserta didik berada. 

Proses Belajar Mengajar yang biasa hanya dibatasi oleh Guru dan siswa, sekarang harus melibatkan pihak lain, apakah teknolgi, lingkungan, jaringan, dan sumber daya manusia lain, dirumah yang dapat mengoptimalkan Proses Pembalajaran tersebut, sebaik apaun jaringan, secanggih apapun teknolgi yang digunakan, tanpa partisifasi keluarga siswa dirumah, semua akan sia-sia. Pertanyaan Mendasar sudahkah Orang Tua/wali siswa dapat mengambil peran dalam berpertisifasi pada proses pengajaran anaknya?. Dengan melakukan minimal :

  1. Melakukan pengawasan pada keluarganya agar mengikuti  Proses Belajar Mengajar padaa saat itu. dengan sungguh-sungguh
  2. Mendukung dan memberikan Fasilitas agar Proses Belajar Mengajar dapat berjalan Optimal.
  3. Menjalin kerjasama antara orang/wali dengan pihak sekolah umumnya, dan pengajar khususnya, sehingga yang diinginkan sekolah/pengajar, orang tua/wali siswa dapat diakomudir semua pihak, suatu yang diinginkan  dapat tercapai dengan segera.

Jika ketiga peran tersebut dapat dilaksanakan oleh orang tua/wali siswa maka Proses Belajar Mengajar dizona yang harus dilakukan dirumah dapat berjalan sukses dan membawa hasil, namun jika para orang tua/wali tidakmelakukan yang diharapkan diatas maka proses belajar mengajar dirumah yang dijalankan oleh lembaga pendidikan hanya menjadi sebuah gagasan muluk yang tak punya arti apa-apa, parak siswa tak mendapatkan kemajauan apapun dalam proses belajarn mengajar dirumah.

Covid 19 ini seolah mengajak kita  untuk kembali, mernunga apa yang dikatakan oleh Bapak Pendidikan kita hamper seabad yang lewat yakni “ Pendidikan itu Tanggungjawab bersama Pemerintah, Masayarakat dan orang tua” jika sbelumnya ini hanya sembuyan yang terasa enak didengar namun tak pernah dilakukan sungguh-sungguh oleh orang tua, sekarang semboyang harus kita laksanakan sungguh-sungguh jika ingin proses pembelajaran anaknya berhasil dan berlaku sebaliknya. (*)


Tags :

bm
Created by: Infopubliknews

Info Publik News Cepat Tepat Hangat

Post a Comment