Wiranto Tegaskan Akan Tindaklanjuti Tuntutan Aksi Bela Tauhid 211

IPN - Jakarta. Aksi Bela Tauhid 211 berjalan dengan aman dan damai, massa mulai membubarkan diri sekira pukul 17.40 WIB setelah mendengarkan hasil pertemuan perwakilan massa aksi dengan Menteri Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Wiranto.

Perwakilan massa Aksi Bela Tauhid diterima Wiranto yang didampingi Wakapolri Komjen Ari Dono Sukmanto di ruangan Bima, kantor Kemenko Polhukam, Jakarta. Di antaranya, Slamet Ma'arif dari Persaudaraan Alumni (PA) 212, yang menginisiasi aksi tersebut. Kemudian ada politikus PAN Eggi Sudjana, serta beberapa perwakilan lainnya, yakni Al Khaththat, Hanif, Asep Syarifuddin, Nurdiyati, Nasir Zein, Awit Masyuri, Abah Raud, dan Maman S.

Wiranto menegaskan akan menindaklanjuti tuntutan massa Aksi Bela Tauhid  211. Wiranto akan mengupayakan pertemuan ormas-ormas Islam terkait peristiwa pembakaran bendera berkalimat tauhid yang dinyatakan bendera HTI.


Diharapkan pertemuan dengan ormas-ormas Islam akan menemui kesepahaman. Dampak atas peristiwa pembakaran bendera di Garut menurut Wiranto harus diselesaikan bersama.


"Karena ini tidak bisa diselesaikan secara sepihak. Tidak bisa diselesaikan satu kelompok ya, justifikasi merasa benar, nggak bisa," sambungnya.


Selain itu, Wiranto juga berpesan agar umat Islam tetap dalam suasana damai dan tenang. Polemik bendera menurutnya tidak boleh membuat perpecahan.

Aksi bela tauhid ini merupakan buntut dari kejadian pembakaran bendera kalimat tauhid yang dilakukan oleh oknum anggota Banser, pada saat Hari Apel Santri Nasional, di Garut, Jawa Barat.





Aksi Bela Tauhid ini diawali dengan sholat Jumat berjamaah di Masjid Istiqlal. Massa kemudian beranjak menuju Istana Kepresidenan untuk menyampaikan aspirasi mereka. Jumlah massa diperkirakan mencapai 14.000 orang yang berasal dari sejumlah daerah.



Ketua Media Centre PA 212, Novel Bamukmin mengatakan, aksi kali ini menuntut Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Kiai Haji Said Aqil Siradj dan Ketua Gerakan Pemuda Ansor, Yaqut Cholil Qaumas untuk meminta maaf terkait pembakaran bendera berlafaz tauhid. "Pimpinan NU dan Banser wajib minta maaf," ujar Novel di Jakarta, Jumat, 2 November 2018.

Novel juga meminta kepada tiga pelaku pembakaran bendera HTI di wilayah Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, dihukum maksimal. "Proses hukum dengan adil, harus dijerat dengan Pasal 165a bukan Pasal 174," ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga meminta kepada Ketua GP Ansor memberikan klarifikasi kepada masyarakat secara menyeluruh, terkait pernyataannya yang menyebutkan bendera bertuliskan lafaz tauhid itu bendera organisasi Hizbut Tahrir Indonesia. "Klarifikasi atas kebohongan pimpinan Banser yang bendera tauhid di katakan sebagai bendera HTI," ujarnya.

Selain menyerukan tuntutan, ribuan umat Islam yang mengikuti Aksi Bela Tauhid turut membaca doa untuk para korban bencana dan musibah Nusa Tengggara Barat, Sulawesi Tengah dan yang terakhir musibah jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Karawang, Jawa Barat.

Selain memanjatkan doa, lagu - lagu kebangsaan juga terdengar saat aksi berlangsung. Lagu Bagimu Negeri dan Indonesia Raya dikumandangkan massa yang berada di Jalan Medan Merdeka Barat atau sekitar kawasan Patung Kuda.


Sebelumnya Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Idham Aziz juga mengimbau kepada para peserta aksi bela tauhid jilid II di area Patung Kuda Arjuna, Jakarta Pusat, agar tetap menjaga ketertiban.

“Saya imbau marilah kita unjuk rasa dengan tertib, santun, kita jaga Jakarta ini,” ujar Idham di lokasi aksi. Idham pun langsung memantau kondisi di di sekitar massa. Bahkan, dia sempat melakukan dialog dengan jajaran personelnya tersebut.

Ia berkomitmen akan memberikan pengamanan dan menurunkan personel polisi untuk mengamankan aksi bela tauhid itu. Personel yang diterjunkan sekitar 12.300 personel.

Subscribe to receive free email updates: