**)
![]() |
| Tim dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Mamuju memberikan pembekalan kesiapsiagaan psikologis bencana kepada siswa UPTD SMK Negeri 1 Mamuju melalui program Remaja Tangguh Bencana. |
MAMUJU – Menghadapi bencana bukan hanya soal mengetahui jalur evakuasi atau kemampuan memberikan pertolongan pertama. Mengendalikan kepanikan dan menjaga ketenangan juga menjadi keterampilan penting yang perlu dimiliki setiap orang.
Hal inilah yang diperkenalkan tim dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Mamuju kepada 30 siswa UPTD SMK Negeri 1 Mamuju melalui program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk *Remaja Tangguh Bencana.
Kegiatan yang berlangsung Mei hingga Oktober 2026 tersebut melibatkan perwakilan enam organisasi kesiswaan, yakni OSIS, ROHIS, PASKIBRA, Pramuka, PMR, dan SISPALA.
Tim pelaksana terdiri atas Masnaeni Ahmad dan Syamsidar, dengan dukungan tiga mahasiswa pendamping, Alya Afifah, Anita Liana Delfi P, dan Fatmawati.
Salah satu materi yang menjadi perhatian adalah kesiapsiagaan psikologis. Melalui sesi yang dipandu Masnaeni Ahmad, siswa diperkenalkan pada teknik *mindfulness* dan pernapasan efektif untuk membantu mengendalikan respons diri ketika menghadapi situasi darurat.
Tak sekadar teori, para siswa juga mempraktikkan teknik tersebut. Mereka diajak memahami cara mengenali kepanikan, menenangkan diri, hingga memberikan dukungan kepada teman yang mengalami kecemasan.
Salah seorang peserta dari PMR mengaku mendapatkan pengalaman baru. Selama ini, menurutnya, kesiapsiagaan bencana lebih banyak dipahami sebatas pertolongan pertama secara fisik.
“Sekarang kalau ada teman yang panik, saya tidak ikut panik lagi. Saya jadi tahu cara menenangkannya dulu, baru ditolong,” ungkapnya.
Selain pembekalan psikologis, siswa juga mendapatkan edukasi mengenai peran remaja dalam mitigasi bencana di lingkungan sekolah. Setiap organisasi kesiswaan diajak mengidentifikasi kontribusi yang bisa dilakukan sesuai kapasitas masing-masing.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Muhammad Rafik menilai kegiatan tersebut memberikan nilai tambah bagi pembinaan siswa. Sebab, kesiapsiagaan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan evakuasi dan pertolongan fisik.
Menurutnya, teknik mindfulness dan pernapasan efektif yang diberikan secara interaktif membuat siswa lebih tenang, kompak, serta percaya diri untuk menjadi penggerak bagi teman sebaya ketika terjadi keadaan darurat. (**)
Sumber: IPN
Penulis: Asri
Upload: Tim
Sementara itu, keterampilan pertolongan pertama diperkuat melalui praktik evakuasi korban dan balut bidai yang dipandu Syamsidar. Tim juga memberikan pendampingan untuk memperkuat kapasitas Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
Sebagai dukungan terhadap keberlanjutan program, tim dosen turut menyerahkan bantuan sarana berupa tandu, tas darurat (*emergency kit*), dan booklet Remaja Tangguh Bencana.
Guru sekaligus Pembina UKS UPTD SMK Negeri 1 Mamuju, Rahnida Rahman, menyambut positif materi tersebut. Menurutnya, pembekalan kesiapsiagaan psikologis melengkapi keterampilan anggota PMR yang selama ini lebih banyak berfokus pada pertolongan pertama fisik.
Dia berharap pengetahuan tentang cara membantu teman yang mengalami kepanikan dan kecemasan dapat diteruskan kepada kader PMR berikutnya.
Apresiasi juga disampaikan Kepala UPTD SMK Negeri 1 Mamuju, Makhmudi. Dia menilai program tersebut memberikan bekal keterampilan hidup yang relevan bagi siswa, terlebih sekolah berada di wilayah yang memiliki risiko bencana.
Melalui program ini, siswa tidak hanya dibekali kemampuan menghadapi kondisi darurat secara fisik, tetapi juga keterampilan mengelola emosi dan memberikan dukungan psikologis kepada orang lain.
Dengan melibatkan organisasi kesiswaan, pembina UKS, dan pihak sekolah, program Remaja Tangguh Bencana diharapkan menjadi langkah awal membangun budaya sadar bencana yang lebih kuat dan berkelanjutan di lingkungan pendidikan. (


