![]() |
| Peragaan busana |
KOTABARU – Sebuah peragaan busana dapat berakhir ketika lampu panggung meredup. Namun, bagi pelaku ekonomi kreatif daerah, kesempatan memperkenalkan produk di hadapan publik dari berbagai latar belakang dapat menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang.
Itulah nilai yang dapat dibaca dari penampilan pelaku ekonomi kreatif Kabupaten Kotabaru dalam Jogja Fashion Rendezvous 2026 di Yogyakarta, 8–11 Oktober lalu.
Melalui Sasirangan Sa-ijaan, para desainer membawa identitas Bumi Saijaan ke dalam tiga rangkaian koleksi busana.
Karya yang ditampilkan memadukan unsur tradisional dengan rancangan modern, dari pakaian siap pakai hingga gaun malam.
Penampilan tersebut memperlihatkan bahwa produk lokal memiliki ruang untuk dikembangkan melalui pendekatan kreatif.
Kain tradisional bukan hanya bagian dari warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi bahan untuk menghasilkan produk dengan nilai tambah.
Dari sudut pandang pengembangan daerah, kesempatan semacam ini relevan dengan upaya memperluas promosi ekonomi kreatif.
Kepala Bidang Event dan Pertunjukan Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kotabaru, H. Rudi Nugraha, menyampaikan dukungan terhadap kreativitas pelaku lokal, termasuk subsektor fashion.
“Disparpora Kotabaru siap mendukung bentuk kreativitas yang ada di Bumi Saijaan, termasuk di bidang fashion. Kami berharap kreativitas anak-anak muda Kotabaru terus berkembang dan bisa tampil di tingkat nasional,” ujarnya.
Dukungan itu menjadi bagian dari pembinaan terhadap pelaku ekonomi kreatif yang terus berupaya mengembangkan karya dan memperluas jangkauan promosi.
Di Yogyakarta, kontingen Kotabaru menampilkan tiga kelompok koleksi. NH Collection karya Nur Hikmah berkolaborasi dengan Sa Shine karya Maisaroh menghadirkan busana siap pakai. Siswa SMKN 1 Kotabaru melalui brand Ayanda&Co berkolaborasi dengan The House of Hendri Sadana menampilkan koleksi gaun koktail.
Reporter: Jumadil.
Upload: Tim
