Awal Mula Katir Race Kerayaan di Kotabaru Ternyata Inisiasi Dari Bupati Kotabaru Alm Sjachrani Mataja

 

Katir Race Kotabaru

KOTABARU- Sebelum menjadi perlombaan yang setiap tahun dinantikan masyarakat, Katir Race di Desa Kerayaan, Kecamatan Pulau Laut Kepulauan, Kabupaten Kotabaru, memiliki cerita panjang.


Cerita itu tidak lepas dari sosok almarhum Sjachrani Mataja, mantan Bupati Kotabaru yang memimpin daerah tersebut pada 2000–2005 dan kembali menjabat pada 2005–2010.


Semasa kepemimpinannya, Sjachrani Mataja melihat langsung kehidupan masyarakat nelayan di Desa Kerayaan.


Ia melihat bagaimana masyarakat setempat begitu dekat dengan laut. Perahu katir menjadi bagian dari keseharian para nelayan dalam menjalankan aktivitas mereka di perairan.


Dari kebiasaan itulah muncul sebuah gagasan. Sjachrani Mataja kemudian menginisiasi perlombaan katir sebagai upaya mempertahankan kebiasaan masyarakat nelayan sekaligus menjadikannya bagian dari budaya yang dapat diwariskan.


Katir yang selama ini digunakan dalam aktivitas nelayan kemudian dipertandingkan.


Bukan semata-mata untuk mencari siapa yang paling cepat, tetapi juga untuk menjaga agar kebiasaan dan budaya masyarakat pesisir Kerayaan tetap hidup.


Dari situlah Katir Race kemudian berkembang dan terus dilaksanakan masyarakat.


Waktu berganti. Kepemimpinan daerah berganti. Generasi masyarakat Kerayaan pun terus tumbuh. Namun, tradisi Katir Race tetap bertahan.


Setiap kali perlombaan digelar, masyarakat kembali berkumpul di tepi laut. Katir-katir kembali berpacu di perairan Kerayaan, mengingatkan kembali pada kehidupan nelayan yang menjadi awal mula lahirnya tradisi tersebut.


Kini, Katir Race tidak hanya menjadi sebuah perlombaan. Di dalamnya terdapat sejarah tentang bagaimana seorang kepala daerah melihat kehidupan masyarakatnya, kemudian mengangkat kebiasaan tersebut menjadi sebuah tradisi yang terus dirawat.


Pelaksanaan Festival Adat Katir Race & Mappauli Kappung 2026, Minggu (27/9), menjadi salah satu bukti bahwa gagasan tersebut masih hidup hingga sekarang.


Perahu katir kembali berpacu di perairan Kerayaan. Masyarakat menyaksikan dari tepian, sementara generasi muda turut mengambil bagian dalam tradisi yang telah diwariskan dari masa ke masa.


Bagi masyarakat Kerayaan, keberadaan Katir Race memiliki arti lebih dari sekadar perlombaan.


Ada sejarah nelayan di dalamnya. Ada kebiasaan masyarakat pesisir. Dan ada jejak Sjachrani Mataja yang melihat potensi tersebut dan mendorongnya menjadi sebuah tradisi.


Karena itu, Katir Race dinilai penting untuk terus dilaksanakan setiap tahun.


Bukan hanya untuk memeriahkan kegiatan masyarakat, tetapi juga untuk memastikan cerita tentang asal-usul tradisi tersebut tidak ikut hilang.


Sebab, setiap kali katir kembali berpacu di laut Kerayaan, sejarah tentang kehidupan nelayan dan gagasan yang pernah dicetuskan Sjachrani Mataja kembali hidup di tengah masyarakat.


Reporter: Jumadil.